MUKMIN PROFESIONAL, WHY NOT
Sahabat Pengelola STARA di Indonesia...
Setiap muslim seharusnya paham, bahwa ketika hendak menjemput rizki, mereka juga harus punya etika dan adab yang dipertimbangkan secara serius lagi bijaksana. Sebab mereka benar-benar yakin, bahwa rizki adalah salah satu rahasia Allah yang [telah] ditetapkan-Nya bagi setiap makhluk.
Rizki tidak bisa dikalkulasi dengan nalar manusia, dimana dalam satu nash disebutkan “rizki yang tidak disangka-sangka”. Narasi al-Qur’an menyebutkan; “…Wa yarzughu min haitsu laa yahtasib – Allah telah menjamin rizki setiap makhluk-Nya…” (Qs. ath-Thaalaq {65}:3).
Setiap manusia yang terlahir ke dunia, sudah dilengkapi masing-masing rizkinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Allah telah menetapkan takdir semua makhluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.“ (HR. Imam Muslim).
Ada pula suatu ketentuan mutlak bagi manusia, bahwa ia pasti tidak akan pernah abadi bersama harta atau kekayaannya (itu juga kalau ia berkesempatan jadi orang kaya sewaktu hidup di dunia…!?) Sebab kehidupan abadi sebenarnya adalah Akhirat, dimana masing-masing orang pasti akan mempertanggung-jawabkan segala hal yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia.
Lantas apa jadinya jika seseorang menjemput rizkinya dengan cara yang haram atau “semau gue”, tapi hasilnya tetap saja gagal – miskin – kemudian ia mati dalam keadaan su’ul khotimah…!? Na’udzubillah tsumma na’udzubillaah…!!!
Bagi muslim yang cerdas lagi beriman, sungguh bersama sedikit "clue" ini saja akan membuat jantungnya berdegup kencang, kemudian dahinya mengernyit lantaran akal dan pikirannya menolak disejajarkan dengan kaum yang lalai—bodoh—serta ingkar, dimana mereka membinasakan diri menjadi budak syaithon, demi perniagaan yang pasti kalah—rugi—hingga bangkrut…!!!
Jika demikian, mungkin akan terdapat 3 (tiga) jenis pilihan yang menjadi pedoman bagi setiap orang sebelum mereka membidangi suatu pekerjaan, dimana mereka harus memilih salah satunya saja. (1). Menjadi Mukmin Profesional atau (2). Menjadi sekadar bergelar profesional..!?
Sedangkan untuk pilihan (3), bisa jadi paling berbahaya bagi diri maupun lingkungan; yakni mencampur-aduk keduanya, sehingga pilihan seperti itu dapat di ibaratkan seperti kaum banci..!?
• TAWARAN / PERTIMBANGAN PERTAMA (I) ADALAH MENJEMPUT RIZKI DENGAN CARA BAIK & BENAR (AL-HAQQ).
Sungguh beruntung setiap muslim yang menyadari dirinya sebagai makhluk yang sedang diuji [sebentar] oleh Robb-nya, sebelum mereka sampai pada fase kehidupan abadi yang sebenarnya. Bersama waktu yang singkat itu, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memberi kesempatan kepada orang-orang yang berakal, agar mereka menggunakannya dengan bijaksana, di samping ketentuan dan petunjuk-Nya pun telah sempurna dalam Islam.
Apabila seorang mukmin istiqomah bersama cara yang baik dan benar, lalu menurut dunia ia dinyatakan sukses, maka itu hanya bonus kecil yang bisa jadi menambah sedikit "warna" bagi kehidupan sementaranya di dunia. Tetapi jika dunia menyatakannya gagal bersama cara yang baik dan benar, sungguh perihal ini pun adalah sukses besar yang tertunda bagi seorang mukmin, hingga ia benar-benar sampai pada kehidupan abadi yang sebenarnya..!! like emotikon
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rizki (rahmat), maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Fathiir {35}:2).
Allah subhanahu wa ta’ala (juga) berfirman; “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan (rizki) itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Qs. Yunus {10}:107).
• TAWARAN / PERTIMBANGAN KEDUA (II) DAN KETIGA (III) ADALAH MENJEMPUT RIZKI DENGAN CARA SALAH & SESAT (BATHIL), ATAU MENCAMPUR ADUK ANTARA HAQQ DENGAN BATHIL.
Sungguh terlalu banyak ayat dari Allah dan Rasul-Nya, yang menentukan peringatan sekaligus ancaman bagi orang-orang yang durhaka lagi ingkar, dimana mereka mengira bahwa kehidupan di dunia adalah segala-galanya, lantas memperjuangkannya dengan menghalalkan segala cara…!?
Maka cara salah dan sesat pun menjadi keniscayaan, kemudian menganggapnya sebagai "way of life", atau suatu keharusan demi mencapai sukses…!? Padahal di hadapannya, sungguh terdapat orang-orang yang [sekadar] dapat sanjungan selama mereka bisa sukses dengan cara haram..!? Atau sebaliknya, orang-orang yang gagal dalam menghalalkan segala cara, sehingga mereka pun akhirnya jadi bahan olok-olokan bagi sesamanya..!?
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu, melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Robb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (Qs. al-Muthaffifin {83}: 10-16).
Apabila menghalalkan segala cara tidak lagi efektif dan tidak pula menghasikan, tapi untuk kembali kepada hidayah Allah juga “ogah”, maka orang-orang yang lalai seperti itu akan kembali bereksperimen, yakni membenarkan dan mengimani tawaran syaithon lain yang bergelar fasiq dan munafiq…!? Maka mereka pun melanjutkan perjuangannya dengan jalan mencampur aduk antara haqq dengan bathil, alias abu-abu dan atau menjadi kaum banci…!?
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan perkara tersebut dengan berfirman; “Janganlah kamu campur adukkan yang haqq dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang haqq itu, sedang kamu mengetahuinya.” (Qs. al-Baqarah {2}:42).
Subhanallah, Mahasempurna Allah dengan setiap ketetapan-Nya yang begitu tegas namun bijaksana. Dengan demikian, Mukmin Profesional itu adalah hamba Allah yang insyaAllah giat bekerja – berkarya – berinovasi – serta berkreatifitas, dengan cara yang baik dan benar (al-Haqq) saja. Sebab mereka sami’na wa atho’na dan yakin penuh, bahwa prinsip al-Haqq (al-Qur’an dan as-Sunnah), merupakan ketetapan abadi yang memisahkan antara perihal haqq dengan perihal bathil.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haqq dan yang bathil, dan ia (al-Haqq) sekali-kali bukanlah senda gurau…!!!” (Qs. ath-Thaariq {86}: 13-14).
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepada-Ku, lalu masing-masing orang meminta untuk dipenuhi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Ku, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut.” (HR. Imam Muslim).
Hadits shoheh ini bukan ingin menafikan perbuatan atau ikhtiar seseorang dalam mencari nafkah atau bekerja. Sebab bekerja dengan semangat merupakan syarat mulia bagi setiap orang untuk menjemput rizki Allah, sebagaimana para Nabi dan Rasul pun juga melakukan hal yang sama. Maka “stressing” paling penting dalam menjemput rizki atau nafkah itu adalah; caranya yang harus baik dan benar, sekaligus sebagai bentuk ketaatan pemiliknya kepada Allah Sang Mahapemberi rizki yang paling sempurna…
Wallahu tabaroka wa ta'ala a'lam.
L♥ve and Respect;
Buya Dive The Radioman
Whatsapp : 082122770121 – BB Pin 7D905AF0
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive
Setiap muslim seharusnya paham, bahwa ketika hendak menjemput rizki, mereka juga harus punya etika dan adab yang dipertimbangkan secara serius lagi bijaksana. Sebab mereka benar-benar yakin, bahwa rizki adalah salah satu rahasia Allah yang [telah] ditetapkan-Nya bagi setiap makhluk.
Rizki tidak bisa dikalkulasi dengan nalar manusia, dimana dalam satu nash disebutkan “rizki yang tidak disangka-sangka”. Narasi al-Qur’an menyebutkan; “…Wa yarzughu min haitsu laa yahtasib – Allah telah menjamin rizki setiap makhluk-Nya…” (Qs. ath-Thaalaq {65}:3).
Setiap manusia yang terlahir ke dunia, sudah dilengkapi masing-masing rizkinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Allah telah menetapkan takdir semua makhluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.“ (HR. Imam Muslim).
Ada pula suatu ketentuan mutlak bagi manusia, bahwa ia pasti tidak akan pernah abadi bersama harta atau kekayaannya (itu juga kalau ia berkesempatan jadi orang kaya sewaktu hidup di dunia…!?) Sebab kehidupan abadi sebenarnya adalah Akhirat, dimana masing-masing orang pasti akan mempertanggung-jawabkan segala hal yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia.
Lantas apa jadinya jika seseorang menjemput rizkinya dengan cara yang haram atau “semau gue”, tapi hasilnya tetap saja gagal – miskin – kemudian ia mati dalam keadaan su’ul khotimah…!? Na’udzubillah tsumma na’udzubillaah…!!!
Bagi muslim yang cerdas lagi beriman, sungguh bersama sedikit "clue" ini saja akan membuat jantungnya berdegup kencang, kemudian dahinya mengernyit lantaran akal dan pikirannya menolak disejajarkan dengan kaum yang lalai—bodoh—serta ingkar, dimana mereka membinasakan diri menjadi budak syaithon, demi perniagaan yang pasti kalah—rugi—hingga bangkrut…!!!
Jika demikian, mungkin akan terdapat 3 (tiga) jenis pilihan yang menjadi pedoman bagi setiap orang sebelum mereka membidangi suatu pekerjaan, dimana mereka harus memilih salah satunya saja. (1). Menjadi Mukmin Profesional atau (2). Menjadi sekadar bergelar profesional..!?
Sedangkan untuk pilihan (3), bisa jadi paling berbahaya bagi diri maupun lingkungan; yakni mencampur-aduk keduanya, sehingga pilihan seperti itu dapat di ibaratkan seperti kaum banci..!?
• TAWARAN / PERTIMBANGAN PERTAMA (I) ADALAH MENJEMPUT RIZKI DENGAN CARA BAIK & BENAR (AL-HAQQ).
Sungguh beruntung setiap muslim yang menyadari dirinya sebagai makhluk yang sedang diuji [sebentar] oleh Robb-nya, sebelum mereka sampai pada fase kehidupan abadi yang sebenarnya. Bersama waktu yang singkat itu, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memberi kesempatan kepada orang-orang yang berakal, agar mereka menggunakannya dengan bijaksana, di samping ketentuan dan petunjuk-Nya pun telah sempurna dalam Islam.
Apabila seorang mukmin istiqomah bersama cara yang baik dan benar, lalu menurut dunia ia dinyatakan sukses, maka itu hanya bonus kecil yang bisa jadi menambah sedikit "warna" bagi kehidupan sementaranya di dunia. Tetapi jika dunia menyatakannya gagal bersama cara yang baik dan benar, sungguh perihal ini pun adalah sukses besar yang tertunda bagi seorang mukmin, hingga ia benar-benar sampai pada kehidupan abadi yang sebenarnya..!! like emotikon
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rizki (rahmat), maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Fathiir {35}:2).
Allah subhanahu wa ta’ala (juga) berfirman; “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan (rizki) itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Qs. Yunus {10}:107).
• TAWARAN / PERTIMBANGAN KEDUA (II) DAN KETIGA (III) ADALAH MENJEMPUT RIZKI DENGAN CARA SALAH & SESAT (BATHIL), ATAU MENCAMPUR ADUK ANTARA HAQQ DENGAN BATHIL.
Sungguh terlalu banyak ayat dari Allah dan Rasul-Nya, yang menentukan peringatan sekaligus ancaman bagi orang-orang yang durhaka lagi ingkar, dimana mereka mengira bahwa kehidupan di dunia adalah segala-galanya, lantas memperjuangkannya dengan menghalalkan segala cara…!?
Maka cara salah dan sesat pun menjadi keniscayaan, kemudian menganggapnya sebagai "way of life", atau suatu keharusan demi mencapai sukses…!? Padahal di hadapannya, sungguh terdapat orang-orang yang [sekadar] dapat sanjungan selama mereka bisa sukses dengan cara haram..!? Atau sebaliknya, orang-orang yang gagal dalam menghalalkan segala cara, sehingga mereka pun akhirnya jadi bahan olok-olokan bagi sesamanya..!?
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu, melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Robb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (Qs. al-Muthaffifin {83}: 10-16).
Apabila menghalalkan segala cara tidak lagi efektif dan tidak pula menghasikan, tapi untuk kembali kepada hidayah Allah juga “ogah”, maka orang-orang yang lalai seperti itu akan kembali bereksperimen, yakni membenarkan dan mengimani tawaran syaithon lain yang bergelar fasiq dan munafiq…!? Maka mereka pun melanjutkan perjuangannya dengan jalan mencampur aduk antara haqq dengan bathil, alias abu-abu dan atau menjadi kaum banci…!?
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan perkara tersebut dengan berfirman; “Janganlah kamu campur adukkan yang haqq dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang haqq itu, sedang kamu mengetahuinya.” (Qs. al-Baqarah {2}:42).
Subhanallah, Mahasempurna Allah dengan setiap ketetapan-Nya yang begitu tegas namun bijaksana. Dengan demikian, Mukmin Profesional itu adalah hamba Allah yang insyaAllah giat bekerja – berkarya – berinovasi – serta berkreatifitas, dengan cara yang baik dan benar (al-Haqq) saja. Sebab mereka sami’na wa atho’na dan yakin penuh, bahwa prinsip al-Haqq (al-Qur’an dan as-Sunnah), merupakan ketetapan abadi yang memisahkan antara perihal haqq dengan perihal bathil.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haqq dan yang bathil, dan ia (al-Haqq) sekali-kali bukanlah senda gurau…!!!” (Qs. ath-Thaariq {86}: 13-14).
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepada-Ku, lalu masing-masing orang meminta untuk dipenuhi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Ku, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut.” (HR. Imam Muslim).
Hadits shoheh ini bukan ingin menafikan perbuatan atau ikhtiar seseorang dalam mencari nafkah atau bekerja. Sebab bekerja dengan semangat merupakan syarat mulia bagi setiap orang untuk menjemput rizki Allah, sebagaimana para Nabi dan Rasul pun juga melakukan hal yang sama. Maka “stressing” paling penting dalam menjemput rizki atau nafkah itu adalah; caranya yang harus baik dan benar, sekaligus sebagai bentuk ketaatan pemiliknya kepada Allah Sang Mahapemberi rizki yang paling sempurna…
Wallahu tabaroka wa ta'ala a'lam.
L♥ve and Respect;
Buya Dive The Radioman
Whatsapp : 082122770121 – BB Pin 7D905AF0
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar