Minggu, 04 Oktober 2015

MENGAPA SIARAN RADIO DI ANGGAP GAMPANG





Argumentasi : Buya Dive The Radioman
[ untuk salah kaprahnya orang radio ]


Wahai “orang radio” di Indonesia...

Terus terang saja, saya merasa tidak paham sekaligus prihatin, mendapati opini—tulisan—atau bahkan klaim dari orang radio sendiri, yang menyatakan bahwa untuk menjadi penyiar radio itu sebenarnya gampang..!? Apakah opini—tulisan—atau klaim dari orang radio yang menggampangkan ini berkesimpulan; bahwa orang-orang yang bersuara bagus, gaul dan suka ngobrol, senang mendengarkan lagu, bisa bahasa Inggris, serta ngocol dan pintar ngebanyol, lantas mereka sudah di anggap layak menjadi penyiar radio..!?

Apabila kriteria untuk menjadi penyiar radio hanya sesederhana itu, maaf, pantas saja terlalu banyak penyiar radio di negeri ini yang tidak bangga dan tidak menganggap pekerjaannya sebagai profesi, sebagaimana minimnya pula penghargaan dari masyarakat serta pihak-pihak yang (sebenarnya) membutuhkan jasa mereka..!?

Argumentasi sederhananya begini;

• Jika saja penyanyi profesional hanya mengutamakan modal suara bagus, maka yakinlah bahwa penyanyi amatir atau penyanyi berkelas kamar mandi pun juga banyak yang memiliki suara bagus..!!

• Jika untuk menjadi penyiar radio sudah di anggap memenuhi kriteria lantaran punya (sekadar) suara bagus, lantas ia gaul dan suka ngobrol, senang mendengarkan lagu, bisa bahasa Inggris, serta ngocol dan pintar ngebanyol, maka silakan anda juga yakin, bahwa masyarakat umum diluar sana pun sangat banyak yang punya kriteria tersebut..!!

• Jika skill—pengetahuan—kreatifitas—hingga kapasitas “air personality” seorang penyiar yang mengaku profesional sama saja dengan masyarakat umum yang juga sanggup cuap-cuap begini dan begitu, tolong anda jawab dengan jujur, akan adakah penyanyi amatir atau penyanyi kamar mandi yang bakal “di anggap” dan atau di bayar mahal sebagaimana Afgan, Fatin, Tompi, Citra Scholastika, Once, Rossa, atau para penyanyi profesional lainnya, dimana mereka ini sudah pasti sangat eksklusif, dan jumlahnya pun pasti sangat sedikit di bandingkan para penyanyi amatir dan berkelas kamar mandi..!?

Yup..!! Perkara inilah yang dinamakan “differensiasi”, sehingga profesional atau ahli dalam suatu bidang, jelas harus terlatih—unggul—serta benar-benar istimewa dibandingkan sekadar para amatir atau kaum selainnya..!!

Kembali menelaah persoalan di awal, pantas saja orang radio masa kini merasa limbung dan mendadak linglung, lantaran popularitas medianya dikalahkan oleh keberadaan televisi, atau media-media komunikasi dan informasi besar lainnya..!? Padahal semua jenis media itu (baik radio mau pun televisi), pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing..!! Ada pun kekuatan radio hanya ada pada prinsip bunyi dan suara, yang kemudian membentuk imajinasi tanpa batas bagi pendengarnya, atau inilah yang dinamakan “theater of mind”..!!

Dengan demikian, orang radio sebenarnya tidak perlu “kebakaran jenggot” mendapati kesuksesan televisi, lantas repot “menyulap” medianya seolah juga punya kekuatan visual..!? Akhirnya saya mengerti, itulah sebab mengapa sebagian besar orang radio masa kini berteori tentang kriteria penyiar radio sebagaimana tersebut, lantaran semua kriteria itu mereka anggap sebagai “resep sukses” mayoritas televisi dalam mengelola penyiarnya..!?

Contohnya terlalu banyak, sebutlah nama semisal Dede, sosok pemuda “cungkring” yang sekarang mulai kondang lantaran sering tampil di RCTI. Anda mungkin sudah tahu, bahwa latar belakang Dede bukanlah penyiar, bukan pula artis atau sejenisnya. Ia juga bukan orang yang bersuara bagus atau bertampang keren, begitu juga awamnya Dede dalam membawakan suatu acara. Lantas dari mana jalannya Dede bisa menjadi salah satu “host” untuk acara Dahsyat RCTI..!? Ya itulah, sebab Dede mungkin di anggap bisa ngocol dan ngebanyol, atau lebih tepatnya Dede yang memiliki wajah “tidak biasa” itu, bisa sekalian dijadikan tumbal buat lucu-lucuan..!? Nah, bukankah dengan modal sekian itu saja sudah bisa membuat orang seperti Dede jadi terkenal..!! Ya iyalah, siapa pun juga bisa, tinggal tampilkan saja seseorang yang ingin di publikasikan itu setiap hari bila perlu setiap waktu..!! Karena memang begitulah konsep publisitas yang cenderung dilakukan televisi untuk mencetak “icon” baru. Begitu juga terbentuknya nama-nama terkenal lain (sebelumnya) di televisi, dimana mereka dimunculkan berdasarkan penerapan konsep “from nothing to something” sebagaimana langkah-langkah tersebut.

Akibatnya, jelas keliru besar apabila radio (malah) ikut-ikutan televisi bikin acara “chuawawakan” yang di anggap “booming” itu, lantas di adaptasi ke dalam siarannya. Sebab separah-parah dan seberantakan apapun siaran kata yang terbentuk dari tayangan televisi (perihal audio), tetap saja pemirsa masih bisa menyaksikan visual (perihal gambar), sehingga mereka masih dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan radio yang hanya mengandalkan kekuatan suara dan bunyi (perihal audio), tentu saja konsep siaran (kebanyakan improvisasi) yang tidak jelas juntrungannya itu, akan membuat pendengar muak dan segera meninggalkan gelombang radio anda, lantaran “chuawawakan” tersebut tidak ada visualnya dan pendengar tidak pula berselera untuk mengimajinasikannya..!!

Sesungguhnya penyiar radio yang benar-benar ahli di bidangnya, adalah profesional cerdas yang mentalitasnya teruji—mencintai profesi dan istiqomah bersamanya—totalitas dalam mengelola kemampuan diri dan profesi—kemudian ia senang melakukan banyak pembelajaran untuk memahami dan mengembangkan “basic” ilmu radio broadcasting, hingga memewahkan kualitas “air personality”-nya—barulah kemudian ia senang dan bahagia membagikan kreatifitas dan karya terbaiknya, sekaligus sebagai bentuk amal shadaqoh yang menjadi tabungan abadinya di akhirat kelak. Sedangkan suara bagus, gaul dan suka ngobrol, senang mendengarkan lagu, bisa bahasa Inggris, serta ngocol dan pintar ngebanyol, sebenarnya hanya sekadar nilai tambah, yang tidak (pula) selalu menjadi kebutuhan seorang penyiar profesional..!!

Oleh karena itu pahamilah, bahwa sesungguhnya penyiar radio profesional adalah imam yang baik dan benar bagi pendengarnya..!! Ia tidak hanya bertanggung jawab atas dampak baik atau buruk dari segala konten yang disiarkannya, tetapi ia juga harus mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik, atau jika ia tidak mampu berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja." (Muttafaq 'alaih), "Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikan yang ada di antara kedua tulang rahangnya yakni mulut atau lidah, serta antara kedua kakinya yaitu kemaluannya, maka saya memberikan jaminan syurga untuknya." (Muttafaq 'alaih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda; “Sesungguhnya seseorang hamba itu punya kecenderungan bicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan baik atau buruknya, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat." (Muttafaq 'alaih).

Wahai “orang radio” di Indonesia...

Semoga anda dapat bijaksana memahami argumentasi ini, sehingga mulai sekarang, anda pun bersemangat untuk melakukan revisibilitas terhadap kekeliruan selama ini, lewat ilmu basic penyiar radio profesional yang saya komunikasikan disini, terima kasih.



L♥ve and Respect;
Adlibs by : Buya Dive The Radioman
Whatsapp : 082122770121 – BB Pin 7D905AF0

Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook  
Halaman Buya Dive The Radioman 
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia  
Instagram @buyadive 

0 komentar:

Posting Komentar