Minggu, 05 April 2015

PENYIAR ADALAH IMAM BAGI PENDENGAR





Wahai sahabat...

Sesungguhnya PENYIAR radio yang baik dan benar, adalah IMAM bagi makmum [PENDENGAR]nya. Dengan begitu komunikasi dan informasi yang dibagikan, diyakininya pasti harus dipertanggung jawabkan di dunia ini, apalagi di akhirat nanti..!! Apa jadinya jika seorang penyiar mengomunikasikan dan atau mengajak pendengarnya bermaksyiat kepada Allah, dimana ia mencampur aduk perihal haqq dengan bathil..!? Padahal Allah subhanahu wa ta'ala berfirman; "Janganlah kamu campur adukkan yang haqq dengan yang bathil...!!" (Qs. al-Baqarah {2}:42). Jikalau Allah ta'ala memerintahkan JANGAN, apakah seseorang yang mengaku hamba boleh melanggarnya..!? Lantas ada yang bertanya; "Memangnya mencampur aduk haqq dengan bathil itu seperti apa..!?" Subhanallah, sungguh sangat terlalu banyak contoh kasusnya kawan... Contoh sederhananya saja; misalkan di awal siaran anda mengucapkan "assalamu'alaykum", atau mendoakan pendengar agar mereka senantiasa sehat dan bahagia. MasyaAllah, sungguh bahwa salam atau doa seperti itu merupakan perihal yang sudah baik dan benar. Lalu mengapa di tengah siaran anda malah merusaknya dengan mengomunikasikan kalimat yang di anggap lumrah saat ini, misalnya; "Selingkuh itu indah ya... atau, selingkuhan lo syapa bow..!?" #_@ Astaghfirullah, tidak pahamkah anda bahwa selingkuh itu adalah perbuatan zina, sedangkan mendekati zina saja sudah dilarang..!? (Qs. al-Israa' {17}:32). Dengan menyepelekan masalah yang serius seperti itu, sesungguhnya anda sudah melenyapkan keberkahan Allah atas pekerjaan siaran yang menjadi profesi anda..!! Padahal maaf saja, rasanya saya belum keliru jika mengatakan; bahwa belum ada orang di Indonesia yang menjadi kayaraya lantaran ia [cuma] bersiaran di suatu radio, meski pun profesi ini telah dilakoninya seumur hidup..!! Jika dengan bermaksyiat [mencampur aduk haqq dengan bathil] hanya menghasilkan sesuatu yang ala kadarnya, tidakkah anda merasa khawatir atau takut, karena di akhirat nanti anda akan lebih hina—sengsara—bahkan celaka..!? Allah subhanahu wa ta'ala berfirman; "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. TIADA SUATU UCAPAN PUN YANG DIUCAPKANNYA, MELAINKAN ADA DI DEKATNYA MALAIKAT PENGAWAS YANG SELALU HADIR." (Qs. Qaaf {50}:16-18). Subhanallah, Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar menggunakan akal dan kecerdasannya, adalah kaum yang paham dan tahu persis mana perbuatan yang membawa UNTUNG atau mana perbuatan yang membawa RUGI...

Wallahu tabaroka wa ta'ala a'lam.




L♥ve and Respect;
Buya Dive The Radioman
Whatsapp : 082122770121 – BB Pin 7D905AF0

Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook  
Halaman Buya Dive The Radioman 
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia  
Instagram @buyadive

Tanya • Jawab ••


Kasmawati Yonnedi ~ Assalamualaikum buya..bnyk jg cendikia yg melontarkan polemik d media ini apa lg issu nya ttg agama islam... dengan alasan ingin menjaring pendapat pro kontra...apakah ini sm dengan yg buya maksud?

•• Buya Dive ~ Wa'alaykumsalam yaa ukthi Kasmawati Yonnedi yang di sayang Allah... Bisa jadi juga ukthi, mengingat al-Islam adalah ad-Diin yang sudah sempurna, sehinga untuk perkara AKIDAH, maka ia tidak boleh diperdebatkan atau di jadikan polemik. Sebab haqq adalah haqq dan bathil adalah bathil. Period, demikian ketetapan Allah melalui kitab-Nya..!!

Sedangkan untuk perkara2 yang bersifat khilafiyyah atau furu'iyyah sekali pun, sebenarnya bukanlah juga perihal yang untuk diperdebatkan..!? 

Melainkan ia adalah rahmat bagi umat Islam, sehingga masing2 yang meyakininya, silakan yakini dan istiqomah, tanpa harus mempermasalahkan kepahaman saudara muslimnya yang mungkin berbeda pemahaman dengannya tentang perkara khilafiyyah itu. Sebab yakinlah, bahwa ukhuwah Islamiyah pasti jauh lebih utama dibandingkan repot mempermasalahkan khilafiyah...


May Siregar ~ Assalamualaikum Buya,,Saat ini Fenomena Dakwah dlm keluarga tlh mnjdi sebuah Dilema,, Berdakwah mrpkn kewajiban bg siapa sj yg mmiliki Ilmu tntg alquran Hadist,,namun Fakta menunjukkan byk Istri yg lbh berilmu ketimbang suaminya,, dan byk Anak yg lbh berilmu ketimbang kedua orgtuanya,, sehingga mendakwahi Suami dan kedua orgtua Terbentur dgn kedudukan mrk,,@jazakalahu khair wa fiik Baarakallahu,,

•• Buya Dive ~ Nanda May Siregar yang di sayang Allah, sesungguhnya Islam tidak pernah menetapkan bahwa kaum pemberi nasihat harus atau hanya dilakukan oleh alim ulama, pemimpin, orantua, atau oleh orang-orang yang berilmu saja..!?

Jika demikian, tentu akan menjadi tidak syah kalimat ad-Diin yang menyebutkan; NASIHAT MENASIHATI AGAR... dimana kalimat nasihat menasihati ini maknanya adalah SALING, sehingga BUKAN SEPIHAK. Dengan begitu, setiap muslim berhak memberi nasihat yang baik dan benar, sehingga sudah tepat salah satu kiat yang dituliskan dinda Iswandi Taher [RAIHLAH HATI MEREKA]. 

Meski demikian, semua orang pemberi nasihat itu juga mesti ingat dan waspada, bahwa NASIHAT yang diberikannya itu TIDAK BOLEH HANYA SEBAGAI SUATU MATERI YANG SEKADAR INDAH DI UCAPKAN ATAU DI SYIARKAN, PADAHAL IA SENDIRI TIDAK MELAKUKANNYA..!? Contoh, tiap sebentar ia posting gambar sholat jamaah di masjid berpahala 27X... Sedangkan ia sendiri jarang sholat jamaahdi masjid, atau jangan2 malah tidak pernah..!?  Sungguh ancaman Allah tidak main-main kepada kaum yang demikian itu, dan silakan saksikan melalui Qs. ash-Shoff {61}:2-3).

Selanjutnya apabila kita ingin memberi nasihat untuk kasus seperti yang nanda tuliskan, maka terapkan saja perintah Allah ta'ala yang menyebutkan; "Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, lalu bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. an-Nahl {16}:125).

Demikian nak, wallahu tabaroka wa ta'ala a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar