Senin, 05 Oktober 2015

SEJARAH LAMPAU DUNIA KEPENYIARAN





KETERAMPILAN PENYIAR RADIO
Bagian 1 : Sejarah Lampau Dunia Kepenyiaran

Wahai “orang radio” di Indonesia...

Apakah menjadi penyiar [profesional] itu cukup dengan modal suara yang dibuat-buat bagus—lucu, gaul dan bisa ngocol—atau ikutin aja gaya penyiar [senior] yang di anggap keren..!? Jika demikian, tunggulah sebentar, bahwa eksistensi anda sebagai penyiar akan segera berakhir..!?

Mari kita “flashback” kebelakang, tepatnya dekade tahun70-an di Indonesia, dimana masa itu boleh jadi zaman keemasan-nya TVRI. Ya iyalah, sebab TVRI merupakan satu-satunya media televisi... ^^ Pada zaman itu, kalau sudah menjadi penyiar televisi, jarang ada orang yang tidak mengenalnya. Salah satu penyiar TVRI yang paling populer adalah Anita Rahman. Wajahnya cantik, apalagi kalau sudah tampil dengan kebaya, suaranya juga bagus dan gaya bicaranya menyenangkan. Ini menyebabkan ia terlihat berbeda dari penyiar-penyiar lainnya.

Beberapa tahun kemudian, lama-kelamaan, hampir semua penyiar wanita di TVRI, tampil dengan gaya bicara meniru Anita Rahman. Lha kok jadi begini ya? Ternyata semua penyiar wanita kala itu, oleh pimpinan TVRI, diberikan rekaman video siaran Anita Rahman, dan diwajibkan untuk meniru semirip mungkin gaya siaran / gaya bicara Anita Rahman. Akibatnya, bagi pemirsa, penyiar-penyiar lain yang diwajibkan berusaha meniru, tidak pernah bisa terdengar sebagus Anita Rahman asli. Malah terasa ada ketidak-wajaran karena tidak sesuai dengan kepribadian si penyiar itu sendiri..!?

Peniruan Wajib

Sampai sekarang, cara “wajib tiru” masih terjadi di stasiun televisi swasta, begitu pula di radio-radio swasta. Masih ingat bagaimana gaya bicara Desi Anwar (RCTI – 90-an) ditiru banyak penyiar wanita lainnya. Ternyata memang “tutor”-nya yang melatih seperti itu. Juga di radio, dimana mantan penyiar Prambors (radio kawula muda) menjadi pimpinan di sebuah stasiun radio yang pendengarnya bukan anak muda, tetap saja si pimpinan ex Prambors itu mewajibkan semua penyiar-penyiarnya meniru gaya siaran dia sewaktu jadi penyiar di radio Prambors. Ini kesalahan lumrah yang sering terjadi. Jadi, karena telinga Anda sejak remaja sampai dewasa sudah terbiasa dengan gaya siaran radio tertentu (misalnya: Prambors), maka Anda menganggap bahwa siaran yang bagus dan benar adalah seperti yang sudah menjadi kebiasaan telinga Anda tadi..!?

Karena setiap week-end kita menonton presenter kuis sepakbola di TV swasta dengan gayanya yang (disuruh) kecentilan seperti petasan injek (ha.ha.ha) dan gaya bicaranya yang nyerocos sehingga tak jelas ditangkap telinga, maka ketika ada yang melamar jadi presenter kuis sepakbola, para tutor / crew di stasiun TV tersebut mewajibkan gaya siaran dan gaya bicara seperti itu pula. “begitu yang bagus, begitu dong harus sexy”, katanya.

Yaaa... kebetulan juga sih ada presenter dengan gaya begitu, jadi anda bisa pergi ke wc dulu atau sempat bikin kopi utk menonton lanjutan pertandingan. Karena memang nggak penting menyaksikan siaran tak bermutu seperti itu... ^^
Jadi tidak heran toch, gaya siaran yang hampir sama dan terkesan dibikin-bikin itulah yang mewabah hampir di semua radio dan televisi kita..!?

Bersambung...



L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook  
Halaman Buya Dive The Radioman 
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia  
Instagram @buyadive 

0 komentar:

Posting Komentar