APAKAH PUBLIK MENYUKAINYA
KETERAMPILAN PENYIAR RADIO
Bagian 2 : Apakah Publik Menyukainya..!?
Wahai “orang radio” di Indonesia...
Ketika TVRI hanya satu-satunya stasiun televisi, telinga publik sudah terbiasa dengan gaya siaran penyiar TVRI ala Anita Rahman. Lalu dikarenakan publik tidak memiliki pilihan lain, setiap hari dijejali yang seperti itu, terbentuklah selera yang seperti itu pula. Jadi selera publik itu sebenarnya bentukan “stasiun tv/radio itu sendiri”. Bukan karena mereka suka dengan sendirinya, melainkan karena kebiasaan.
Jadi, kalau ada seorang boss mantan penyiar radio tertentu, mewajibkan penyiarnya siaran dengan gaya siaran ala radionya dulu, dengan alasan publik (atau dia sendiri) menyukainya, sebenarnya itu pendapat yang keliru. Itu karena telinganya sudah dibiasakan begitu. Padahal secara alamiah, otak manusia selalu lebih peka mendeteksi seseuatu yang berbeda. Dan kalau yang berbeda itu bagus, maka dia akan menempel di otak dan menjadi “idola” baru.
Bukankah justru karena Anita Rahman berbeda, karena Olan Sitompul berbeda (penyiar berita RRI th 60/70-an), karena penyiar olah-raga TVRI ’70-an Bung Sambas berbeda, karena Desi Anwar berbeda, karena Kang Ebet Kadarusman berbeda, maka ia menonjol di mata publik pada jamannya? Apa yang membedakan? Mereka mempunyai ”jiwa” ketika bersiaran, karena teknik siaran ditambah kepribadiannya telah menyatu dengan penampilannya.
Maka jelas, pendapat bahwa publik menyukai penyiar yang sama semua, yang mirip semua gaya siarannya, adalah keliru. Peniruan (copy cat) gaya siaran dan gaya bicara, yang mengacu pada seseorang adalah suatu kesalahan..!!
Publik menyukai seorang penyiar, karena penyiar itu memang baik, cerdas, sopan, enak di telinga, enak di lihat, dan terutama mempunyai karakter yang ”berbeda” dari yang lain!
Bersambung...
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar