KEPRIBADIAN PENYIAR RADIO
KETERAMPILAN PENYIAR RADIO
Bagian 3 : Kepribadian Penyiar Radio
Wahai “orang radio” di Indonesia...
Ada yang berpendapat bahwa penyiar di suatu stasiun harus sama semua, supaya ada cirinya. Pendapat ini ada benar dan ada salahnya. Artinya, kalau arti dari kesamaan itu ada pada ”teknik dan teknis (technicalities)”, maka pendapat itu benar. Tetapi kalau kesamaan itu diartikan agar tak ada bedanya antara satu penyiar dengan penyiar lain, maka hal ini yang salah. Mengapa?
Pertama, karena kepribadian setiap orang (penyiar) itu berbeda-beda, sehingga tidak akan optimal apabila ia ”dipaksa” menjadi orang lain. Akibatnya akan terjadi ketidak-wajaran.
Kedua, tentu saja publik tidak akan tahu apa sebabnya, tetapi mereka bisa merasakan. Sehingga yang mereka cuma tahu bahwa penyiar ini ”tidak enak atau ada sesuatu yang nggak pas”. Artinya, kalau seluruh penyiar hanya merupakan peniruan dari satu orang penyiar orisinil yang dianggap bagus, maka yang betul-betul akan enak bagi publik hanyalah penyiar yang orisinil. Padahal jadual siaran penyiar orisinil mungkin hanya 2 jam per hari. Sisa 22 jam berikutnya akan diisi oleh penyiar-penyiar yang terdengar tidak wajar di telinga publik (walaupun sudah berusaha maksimal meniru penyiar orisinil).
Oleh karena itu, dalam melatih penyiar atau kalau ingin belajar menjadi penyiar, yang harus dikuatkan adalah ”technique and technicalaties”. Sehingga apabila teknik & teknis ini sudah dikuasai dengan baik, si penyiar bisa mengembangkan ”style”-nya sendiri sesuai kepribadiannya. Namun eksekusinya harus dilaksanakan dengan teknik & teknis yang benar. Hanya dengan begini ia akan menjadi penyiar yang baik dan tampil wajar tapi unik.
Perkara ini mungkin dapat di analogikan seperti orang belajar setir mobil. Semua orang yang belajar setir mobil, selalu diajarkan teknik yang sama, yaitu: injek kopling, masuk persneling satu, lalu lepas kopling setengah dulu, injek gas perlahan, lalu pelan-pelan lepaskan kopling secara keseluruhan sambil gas ditambah.
Tetapi ketika kita sudah bisa menyetir mobil, maka ada yang berkembang gaya menyetirnya seperti supir bis-malam antar kota, ada yang seperti supir taksi dan ada pula yang seperti gaya supir kedutaan. Nah inilah clue-nya, dimana kita sudah belajar teknik dan teknis cara menyupir yang sama, tetapi kepribadian kita-lah yang membentuk gaya menyupir ugal-ugalan, atau gaya menyupir santai atau gaya menyupir rapih dan teratur. Tinggal nanti penumpang yang akan menilai, style menyupir yang-manakah yang paling disukainya..!?
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar