Minggu, 18 Oktober 2015

POSITIONING RADIO ANDA





Source and Adlibs by :
Andy Rustam Munaf
Broadcast Sukses

Wahai “orang radio” di Indonesia...

Jika seorang ibu rumah tangga ingin membeli majalah, tentuia akan membeli majalah seperti Femina atau Kartini..!?Dengan demikian suaminya tidak akan pernah membeli majalah tersebut untuk dirinya, meski bukan berarti ia tidak membacanya. Artinya, orang yang tercatat sebagai pelanggan majalah tersebut adalah kaum wanita. Maka laku atau tidak lakunya majalah itu, sangat tergantung pada pembelinya yaitu para wanita/ibu rumah tangga.

Perihal yang lucu terjadi ketika beberapa tahun lalu di Jakarta lahir "Radio Bisnis", yang maksudnya ingin meraih pendengar dari kalangan para pebisnis..!? Ironis, sebab fakta berbicara (AC Nielsen Survey 2003) bahwa radio yang paling banyak pendengarnya dari kalangan pebisnis justru "Radio Sonora", sebuah radio yang sama sekali tidak pernah mem-"positioning"-kan diri sebagai radio bisnis, bahkan slogan dan sapa-an-nyapun tidak pernah menggunakan kata bisnis, eksekutif atau sejenisnya... ^^

Positioning

Dalam marketing, sebuah positioning memang suatu langkah yang strategis untuk memicu akseptasi pasar. Jadi kalau sebuah majalah mengambil positioning dan menamakan dirinya sebagai majalah Gadis, maka isinyapun tentang hal-hal yang menarik minat para remaja wanita. Kalau anda bukan target market dari majalah itu, otomatis anda tidak akan membelinya, walau mungkin saja membacanya sesekali. Ini sesuai dengan strategi pemasaran majalah tersebut.

Berangkat dari pemikiran yang sama, sebuah stasiun radio menamakan dirinya, ambil asaja sebagai contoh "Radio Manajer". Itulah positioning-nya. Isi acaranyapun berkisar seputar topik bisnis dalam berbagai bentuknya. Kalau mengacu kasus sebelumnya, seharusnya radio ini akan sama berhasilnya dengan majalah Gadis tadi. Tapi ternyata tidak! Dimana salahnya?

Kesalahannya bukan pada pada prinsip Marketing-nya melainkan pada implementasi.

Karakter Media

Implementasi yang dimaksud disini adalah menyama-ratakan penerapan formula marketing itu untuk bidang-bidang/sektor industri yang berbeda. Sekalipun radio dan majalah sama-sama media, tetap masing-masing punya karakter yang berbeda sehingga berbeda pula "nature of the business"-nya.

Hal yang paling nyata sudah disebut diatas bahwa majalah itu akan/harus dibeli dulu oleh target market mereka, sebelum mereka dapat membacanya. Artinya seorang gadis remaja harus merogoh koceknya dulu untuk membeli majalah Gadis sebelum ia bisa membacanya. Sebaliknya kalau anda seorang Bapak kemungkinan besar anda tidak akan membeli majalah Gadis (kecuali kalau anak anda memintanya) walau ditawarkan pedagang asongan sekalipun.

Mengapa? Karena dari mulai nama, tata letak (lay out), gambar, dan headline yang semua itu bisa dilihat pada sampulnya/covernya sudah jelas memberi impressi bahwa majalah tersebut bukan untuk anda (bahkan anda merasa tak perlu untuk memeriksa dan membaca dulu artikel-artikel didalamnya). Berbeda dengan radio, yang langsung bisa didengar tanpa bayar oleh siapa saja (kecuali kalau anda tidak punya pesawat penerima radio), selama ia punya telinga dan minat menyalakan radionya.

Radio "Manajer"

Sekarang mari kita bandingkan lebih dalam lagi antara Majalah dengan Radio. Sebagai pemisalan kita pakai saja Radio "Manajer". Radio ini memasang papan nama besar-besar dan iklan dimana-mana, memajang foto-foto cowok berpenampilan keren ala Manajer top, serta mengadakan seminar-seminar mengundang para manajer.

Pendek kata (seperti positioning dan nama yang tercantum sebagai majalah "Gadis"), radio kita ini ingin bilang "Saya Radio Manajer". Isi acara saya adalah topik-topik manajemen dan kasus-kasus manajemen. Pokoknya kalau anda seorang manajer anda cocok untuk menjadi pendengar setia radio kami, demikian slogan yang digembar-gemborkan.

Hal yang terlupa

Disinilah si konseptor Radio Manajer lupa, bahwa para manajer itu kalau mereka memasang radio bukanlah karena ia ingin belajar atau mendengarkan topik manajemen melainkan karena ingin mendengar lagunya Jamie Cullum atau Raisa yang lagi ngetop. Radio memiliki karakter berbeda, yaitu pesannya hanya "selintas".

Oleh karena itu para manajerpun tidak akan sempat menangkap pemahaman dengan benar seandainya kalau ia ingin/mau belajar atau membahas persoalan-persoalan yang penuh dengan analisa dan pemikiran seperti kasus-kasus manajemen. Kalau mereka toch ingin belajar atau meningkatkan pengetahuan manajemennya tentu caranya melalui bacaan atau majalah-majalah manajemen.

Silahkan anda bayangkan sendiri, Manajer yang pagi hari akan berangkat dari rumah mau kekantor, kira-kira apa yang lebih disukai si manajer kalau pada saat itu siaran di radio terdengar pembahasan kasus-kasus korupsi ditinjau dari segi manajemen atau di radio tersebut terdengar lagu Tompi ataupun hit lama dari Lionel Richie..!?

Bukan artinya bahwa kita tak boleh berbicara kasus manajemen ataupun kasus bisnis di radio, akan tetapi cara berpikir ala Majalah jangan dibawa-bawa (copy-paste) ke cara pengelolaan media Radio. Itu... ^^

Dengan demikian, Positioning di Radio tidaklah perlu dengan menamakan diri (dengan papan nama) disesuaikan segmen pendengar yang dituju (misal: Female, Women's Radio, Kids Station dsb), tetapi justeru dengan memberi positioning statement yang berbunyi sesuai apa yang diminati oleh sasaran pendengar. Misal, kalau sasaran pendengar anda si para manajer itu senang dengan lagu-lagu R&B, maka positioning statement anda bisa saja: "The one and only R&B station".

Kalau radio anda ingin menjangkau para ibu-ibu, dan ibu-ibu itu sangat menyukai lagu-lagu melankolis, mungkin positioningnya bisa "Your Sweet Romantic Sound in Town". Saya jamin, kalau ini anda lakukan, maka tanpa anda harus menamakan diri "The Housewives Radio"-pun, otomatis pendengar radio anda pasti ibu-ibu rumah tangga semua.
XVII. RADIO SEHARUSNYA MENCERDASKAN MASYARAKAT

Belakangan ini televisi swasta semakin sering dikecam. Siaran-siaran hiburannya dianggap hanya siaran-siaran kekonyolan dan kehinaan yang mengekploitasi selera rendah masyarakat, demi meraih rating. Sementara siaran-siaran informasi dan beritanya, lebih mirip koran kuning (koran sensasi) berisi hal-hal yang tidak dapat dipastikan kebenarannya. Belum lagi dari sisi latar belakang pengetahuan para penyiar/reporter dan editor-nya, memprihatinkan.

Misal saja ketika mengulas berita tentang Ahmadinejad pada pilpres Iran, si narator tidak tahu bedanya antara pemimpin spiritual dalam revolusi tahun 1979 yang menggulingkan kekuasaan Shah Iran, yaitu Ayatollah Khomeini, dengan pemimpin spiritual Iran yang sekarang, yaitu Ayatollah Ali Khamenei. Ini lagi, dalam sebuah acara talk show, si pembawa acara terlihat sangat bodoh, karena tidak tahu membedakan antara Psikiater dan Psikolog. Ampuuunn deh..!!

Masyarakat Gampang Dibodohi

Bahwasanya sebahagian besar masyarakat kita masih belum cukup mengalami pendidikan yang memadai, semua orang juga tahu. Tetapi banyak yang belum menyadari bahwa di kalangan yang sudah mengalami bangku pendidikan pun cara berpikirnya masih belum matang. Sehingga mudah dikelabui oleh orang lain.

Silahkan buka surat-kabar setiap hari. Hampir dapat dipstikan kita akan mendapati berita penipuan. Ada dengan cara melalui sms ke handphone yang menggiring si pemilik handphone ke ATM untuk kemudian dikuras oleh si penipu. Ada yang dengan cara email iklan uang-gampang.com yang mempromosikan seolah-olah dengan tidur-tiduran saja uang mengalir masuk. Ada iklan seminar gratis main saham/valas, yang digambarkan seolah-olah bisa meraih keuntungan beribu-ribu persen, padahal sesungguhnya dia menjual alat. Ada yang dengan cara menawarkan investasi hotel (atau apapun) di luar-negeri, yang katanya bisa dipakai sendiri untuk berlibur di luar negeri, sembari menerima uang sewa bulanan.

Ada lagi anak raja Afrika yang dapat warisan berjuta dollar tapi membutuhkan uang Anda untuk mengambil warisan itu. Belum lagi iklan provider handphone yang menjanjikan ngomong gratis berjam-jam setelah sekian menit.

Semuanya itu dipercayai begitu saja oleh masyarakat. Kasihan betul! Bahkan Presiden kita pun waktu itu, mau saja percaya ketika dikatakan ada seorang tukang bengkel yang bisa membuat bahan bakar dari air. Sebuah penemuan yang Einstein saja tak cukup pandai untuk menemukannya. Lagi-lagi ampuuun deh..!!

Orang Sakit Perlu Pertolongan

Sebenarnya, kalau dalam kondisi masyarakat sedang sakit seperti ini, maka peran media sangat dibutuhkan untuk mendidik mereka, memberitahu mereka, dan menstimulasi mereka agar jadi pintar, agar jadi kritis/tanggap/berinisiatif. Masalahnya, media dengan penetrasi terbesar yaitu televisi sendiri juga bodoh dan malah mengikuti selera masyarakatnya yang bodoh. Jadi, apakah kita sudah patah arang?

Tidak perlu. Karena sebenarnya masih ada media yang karakteristiknya juga kuat untuk mempengaruhi masyarakat, walau area jangkauannya tak seluas televisi, yaitu: Radio. Kelebihan radio dari televisi adalah soal “rasa dekat” pendengarnya dengan si penyiar. Sehingga penyiar itu menjadi figur yang paling dipercaya oleh si pendengar. Oleh karena itu si penyiar memiliki peluang untuk membuka wawasan pendengarnya. Penyiar punya kesempatan untuk “mengajari” pendengarnya agar menjadi lebih pintar.

Penyiar bisa mengatakan, “Hai Pendengar, jangan mudah tertipu dengan iklan-iklan. Karena pada prinsipnya tidak ada pedagang yang mau rugi. Jadi kalau dia menawarkan sesuatu gratis, itu berarti ia mengambil keuntungannya dari sisi yang lain.” “Hai pendengar, kalau ada berita atau kabar bahwa Anda mendapat hadiah besar apalagi untuk sesuatu yang tidak memerlukan usaha, maka jangan percaya. Karena prinsipnya tidak ada hadiah besar tanpa kerja-keras. Sudah pasti tawaran-tawaran seperti ini bermaksud ia ingin mengambil sesuatu dari Anda tanpa anda sadari.”

TV yang Arogan dan Radio yang Minder

Orang televisi itu sering dianggap arogan/sombong dan merasa hebat sendiri, merasa seperti selebritis karena televisi adalah media audio-visual. Bekerja di televisi membanggakan. Sebaliknya orang radio sendiri sering merasa rendah diri. Perasaannya bekerja di radio itu seperti bukan kerja, melainkan seperti main-main saja. Lihat saja, penyiar radio kalau sedang siaran, bisa saja cuma pakai kaus oblong dan sandal jepit. Bandingkan dengan penyiar televisi yang harus memakai pakaian mahal, asesoris, dan jas.

Sebenarnya apakah orang televisi sombong atau orang radio minder itu bukanlah persoalannya; yang penting selama masing-masing media masih memiliki rasa tanggung-jawab kepada masyarakat, maka itulah tanggung jawab dari setiap media yang sebenarnya. Bukankah udara yang dilalui oleh frekuensi adalah milik rakyat..!? Untuk bisa menjalankan semua itu dengan sebaik-baiknya, maka masing-masing pihak harus memiliki visi idealisme dan ilmu yang cukup untuk melaksanakan misinya, sehingga visi tercapai, misi berjalan dan keuntungan bisnis tetap tercapai. Tanpa ini, sungguh tidak ada kebanggaan dari sebuah media..!!

Ayo Radio..!!!

Setelah kita memahami dan menyadari bagaimana masa depan radio, maka mulai sekarang, kalau orang televisi tidak juga bangkit mengambil peran kepemimpinan untuk membuat masyarakat Indonesia pintar dan maju, tentu saja orang Radio tak perlu ragu untuk mulai sekarang juga membangun kepercayaan masyarakat kepada media Radio. Bangsa yang cerdas bisa dibangun oleh radio... “apalagi kini radio ada gambarnya looh”. ^.^ Now it’s the time to start it all! Merdeka!



L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook  
Halaman Buya Dive The Radioman 
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia  
Instagram @buyadive 

0 komentar:

Posting Komentar