MASIH ADAKAH PEMINAT SIARAN RADIO
Source and Adlibs by :
Andy Rustam Munaf
Andy Rustam Munaf
Broadcast Sukses
Banyak orang menduga, bahwa dengan
kelahiran produk-produk gadget era teknologi informasi, seperti: CD, internet,
iPod, iPad, flash disk, mp3, blackberry dsb, lantas radio di anggap akan
kehilangan pendengarnya..!? Tidak tahu kenapa, setiap kali ada teknologi baru,
pasti banyak orang memprediksi radio akan mati..!? Dulu di Amerika Serikat, ketika
kelahiran siaran televisi pada tahun 1950, orang menganggap radio akan mati.
Namun kenyataannya, radio survived..!! Lalu ketika lahir televisi kabel /
televisi berbayar terutama MTV ditahun 1985, lagi lagi radio dikatakan akan
mati. Ternyata radio survived..!!
Sekarang pun demikian. Kehadiran
produk-produk dan atau gadget teknologi informasi, langsung menimbulkan opini,
pasti siaran radio akan mati..!?
Salah Duga
Banyak orang menganggap bahwa kehadiran
iPod ; mp3 ; internet (download musik gratis), belum lagi media audio-visual
(TV); atau Whatsapp yang menyebabkan akses media audio visual tidak lagi
sesulit dahulu, akan semakin membuat masa depan radio semakin tidak pasti.
Lihat saja di sekitar kita, generasi muda sekarang jauh lebih akrab dengan
gadget-gadget tersebut ketimbang dengan radio..!?
Kalau di Indonesia saja sudah begitu,
maka di Amerika, dimana soal gadget, TV, internet, serta media entertainment
begitu jauh lebih hebatnya, pastilah siaran-siaran radio akan semakin
kehilangan pendengar..!?
Ternyata tidak demikian..!! Data dari
Nielsen terbit pada bulan September 2009, menunjukkan bahwa anak-anak muda di
Amerika masih tetap mendengarkan radio. Usia 12 tahun ke atas mendengarkan
radio rata-rata 2,5 radio—stations per minggu, dengan rata-rata menghabiskan
waktu 21,7 jam per minggu (atau lebih dari 3 jam per hari). Survey diadakan di
51 market di Amerika.
Begitu pula pada orang yang lebih
dewasa, 18 – 34 tahun. Pada rentang usia ini, bahkan lebih banyak lagi waktu
yang dihabiskan untuk mendengarkan radio, mencapai 23 jam per minggu.
Perihal yang lebih mengejutkan lagi, 98%
dari populasi di Amerika Serikat, berdasarkan sample Nielsen, ternyata masih
mendengarkan radio. Nah, bayangkan sendiri, bukan hanya internet dan iPod,
tetapi juga bagaimana hebatnya stasiun televisi disana, belum lagi televisi
kabel, televisi satelit atau media hiburan lainnya, tetapi tetap saja media
radio tidak ditinggalkan oleh pendengarnya. Dibandingkan dengan tahun 80-an,
data survey menunjukkan bahwa 96% dari populasi aktif mendengarkan siaran radio
setiap hari.
Artinya, berdasarkan survey Nielsen di
Amerika, pendapat yang mengatakan bahwa kemajuan Teknologi Informasi dalam
media menyebabkan orang (terutama generasi muda) tidak berminat lagi
mendengarkan radio, adalah tidak benar...!!
Apa yang Sebenarnya Terjadi..!?
Ada pun data yang kita miliki di
Indonesia, maupun ulasan berbagai media termasuk data yang dipegang oleh
advertising agency, selalu menggambarkan bahwa kenyataannya jumlah pendengar
radio di Indonesia semakin menurun..!? Alasan yang dikemukakan selalu begitu,
bahwa pendengar radio, terutama dikalangan remaja, beralih ke internet, iPod,
mp3, CD, TV dan lain-lain yang sejenis itu..!? Bahkan dikatakan di banyak
negara, juga memiliki kecenderungan yang sama.
Padahal tidak begitu yang terjadi di Amerika
sesuai data Nielsen sebagaimana tersebut..!! Jadi penurunan drastis jumlah
pendengar radio tidak terjadi di semua negara dimana perkembangan TI-nya cukup
pesat. Tetapi mengapa begitu yang terjadi di Indonesia atau di “beberapa”
negara lainnya..!?
Ketahuilah bahwa di Amerika,
siaran-siaran radio itu sudah sangat bagus, sangat menyatu dengan publiknya.
Radio sudah menjadi dan berfungsi, sebagai radio yang sesungguhnya dalam
keterkaitan dengan masyarakat disana. Sehingga publik pun memiliki
ketergantungan kebutuhan dari radio.
Bukan hanya tentang informasinya (yang
bisa saja dilakukan dengan lebih baik oleh internet) dan juga bukan hanya
karena musiknya (yang bisa saja dilakukan dengan lebih baik oleh iPod), atau
bukan juga disebabkan oleh content/isi siaran (yang bisa saja dilakukan dengan
lebih baik oleh Televisi), melainkan radio secara utuh mampu hadir sebagai
sosok paling dekat bagi diri pendengarnya..!!
Sedangkan penurunan jumlah pendengar
radio di Amerika, adalah bagi kelompok pendengar yang mendengarkan radio melalui
tuner—receiver konvensional. Tetapi penurunan jumlah ini, diimbangi dengan
kenaikan jumlah pendengar radio melalui internet.
Jika kita mau memperhatikan apa yang
terjadi di Indonesia atau beberapa negara berkembang lainnya, yang industri
radio siaran-nya dikatakan mengalami penurunan jumlah pendengar, atau yang
(katanya) lantaran pendengarnya pindah ke gadget teknologi informasi itu,
pastilah dari dulunya juga siaran-siaran radio di negara itu biasa-biasa saja,
tidak pernah berubah alias begitu-begitu saja, walau sudah berlangsung sejak 40-an
tahun yang lalu..!? Cobalah, jujur saja, bukankah anda tidak pernah bisa
menemukan perbedaan antara gaya siaran radio swasta di tahun 1970-an dengan
gaya siaran radio swasta di tahun 2015..!?
Mungkin dulu masyarakat tidak punya
pilihan alternatif media lain, makanya mereka mendengar siaran radio. Tetapi
sekarang, jaman sudah berubah, eh.. siaran radionya masih sama saja seperti
jaman radio gelap. Tidak ada kemajuan yang berarti, maka jangan heran jika
pendengar siaran radio beralih kepada media yang lain..!?
Radio di Singapura atau di Malaysia
misalnya, dari jaman sebelum adanya gadget, ternyata model siarannya tetap
begitu-begitu saja... gaya radio formal, mirip seperti cara siaran TVRI. Jadi
tidak heran, kalau mereka juga seperti kita di Indonesia, mengalami penurunan
jumlah pendengar radio..!!
Artinya, jangan salahkan pendengar yang
tidak mau lagi mendengarkan siaran radio, dimana itu bukan lantaran adanya
teknologi baru. Radio adalah tetap radio, baik ia disiarkan lewat jalur
terrestrial seperti biasa, atau via satelit, kabel, maupun internet. Tetap saja
orang hanya akan mau mendengar siaran radio, apabila ia menyiarkan sajian acara
yang menyenangkan bagi dirinya. Kalau tidak, maka pendengar pasti akan mencari
kesenangannya ditempat lain. Dengan demikian, perbaikilah siaran anda,
innovatiflah tanpa mengubah diri menjadi media lain. Jadilah radio modern yang
benar-benar radio..!!
Saksikanlah Apple, produsen dari
iPod/iPad, yang mengadakan survey di Amerika, lalu menanyakan kepada para
remaja sebagai berikut; “Apakah kalian akan merasa senang kalau iPod di
tambahkan dengan radio tuner..!?“ Maka jawabannya seperti sudah di duga:
“YES..!!” Apple di Amerika yakin bahwa radio tidak akan kehilangan pendengar.
Kalaupun terjadi, sebenarnya pendengar hanya berpindah sarana mendengarkannya...
Kesimpulan
Kalaulah ada orang-orang masa kini yang
tidak lagi berminat mendengar siaran radio, itu bukan dikarenakan kehadiran
gadget-gadget TI ataupun karena media lain, melainkan lantaran kita sebagai
radio broadcaster tidak mampu mengoptimalkan cara bersiarannya, sehingga siaran
itu pun tidak cukup menarik di hati dan pikiran mereka, baik untuk didengarkan
lewat radio tuner biasa ataupun melalui sarana lainnya.
Sahabat
radio broadcaster...
Jikalau
anda ingin menjadi profesional sejati, hendaklah mengawali suatu pekerjaan
dengan perencanaan yang baik dan benar..!! Sebab jika anda gagal dalam suatu perencanaan,
itu sama saja dengan anda merencanakan kegagalan..!?
Allah
subhanahu wa ta'ala berfirman; "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); Maka bertaqwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. al-Hasyr
{59}:18).
Wallahu
tabaroka wa ta'ala a'lam.
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar