BINASALAH ORANG-ORANG YANG BERLEBIH-LEBIHAN
Wahai sahabat...
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan." Wallahi, beliau mengulang kalimat tersebut hingga 3x, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka, sekaligus sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (HR. Imam Muslim).
Orang-orang yang berlebih-lebihan ini, seperti dikatakan oleh Imam Nawawi, adalah orang-orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 5/525, terbitan Asy Sa’b, Kairo).
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: “Jauhkanlah dirimu dari berlebih-lebihan (tanaththu’) dan perpecahan”. Yakni berlebih-lebihan dalam membaca berbagai macam qira’at. (An Nihayah, Ibnul Atsir, 5/74, terbitan Isa Al Halabi, Tahqiq Ath Thanahi).
Ulama yang lain mengatakan: “Adapun yang dimaksud orang-orang yang berlebih-lebihan, adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam ibadah, sehingga keluar dari tatacara syari’at dan mengikuti bisikan keraguan syetan."
Dikatakan: “Mereka adalah orang-orang yang terlalu dalam menanyakan masalah-masalah pelik yang jarang terjadinya. Diantaranya terlalu banyak menyebutkan cabang-cabang suatu permasalahan, yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Permasalahnnya sebenarnya jarang terjadi, tetapi terlalu banyak perhatian yang diberikan kepadanya.
Lebih parah lagi dari itu adalah membahas masalah-masalah tertentu, dimana kita diperintahkan syari’at untuk mengimaninya saja tanpa harus mencari tahu takwil-nya. Diantaranya membahas sesuatu yang tidak punya bukti di dunia empirik, seperti pertanyaan tentang hakikat hari kiamat, ruh dan lain sebagainya.
Saksikan dan pahamilah firman Allah subhanahu wa ta'ala berikut ini; "Dia-lah yang menurunkan al-Quran kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur'an, sedangkan yang lainnya adalah (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya..!? Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, karena semuanya itu datang dari sisi Robb kami." Maka tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), melainkan orang-orang yang berakal." (Qs. Ali Imran {3}:7).
Ulama lainnya lagi berkata: “Contoh berlebih-lebihan adalah memperbanyak pertanyaan sehingga orang yang ditanya memberikan jawaban 'tidak boleh' setelah sebelumnya memfatwakan 'boleh'." (Faidhul Qadir, 6/355).
Sesungguhnya semua itu termasuk “kesusahan” yang telah dijauhkan Allah dari Islam. Sebab al-Islam adalah ad-Din yang didasarkan pada prinsip “memudahkan bukan menyulitkan, dan memberikan khabar gembira bukan membuat orang lari..!!"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; "Jauhkanlah dirimu berlebih-lebihan dalam perkara agama. Karena orang-orang sebelum kamu, hancur lantaran mereka berlebih-lebihan dalam agama”. (HR. Imam Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majjah, al-Hakim, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban).
Sikap berlebih-lebihan dalam agama ini akan mendorong tumbuhnya sikap memperketat masalah-masalah kecil dan bersempit dada kepada setiap orang yang berbeda pendapat. Sebaliknya sikap toleran dan tidak mempersulit adalah termasuk faktor tumbuhnya persatuan dan keakraban.
Semangat inilah yang menjadikan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dapat mentolerir perbedaan-perbedaan dalam masalah juz’iah dan tidak bersempit dada terhadap pendapat yang berbeda.
Bahkan mereka mengingkari orang-orang yang kesibukannya hanya mencari-cari masalah (perbedaann furu’). Mereka tidak bersedia menanggapi setiap pertanyaan yang tidak akan melahirkan kecuali kesulitan dan keketatan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyantun." (Qs. al-Maa'idah {5}:101).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga melarang banyak bertanya, yang kemudian mengakibatkan kesulitan dan keberatan atas kaum muslimin. Beliau bersabda; “Orang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah seseorang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian karena pertanyaannya sesuatu itu menjadi diharamkan." (HR. Imam Bukhari dan Muslim).
Dalam sabdanya yang lain disebutkan; “Janganlah engkau tanyakan kepadaku sesuatu yang aku biarkan untuk kamu, karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka dengan para Nabi mereka. Apabila aku melarang kamu dari sesuatu maka jauhilah dia dan apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu maka lakukanlah semaksimal mungkin; dan jika aku mencegah kamu dari sesuatu maka tinggalkanlah." (HR. Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majjah).
Hadits ini mengisyaratkan tentang Bani Israel dalam kisah penyembelihan lembu, dimana pertanyaan mereka sungguh berlebih-lebihan: “Bagaimana bentuknya-lah, bagaimana warnanya-lah?, serta bagaimana-bagaimana lainnya..!?” (Silakan buka Qs al-Baqarah: 67-71). Seandainya saja mereka langsung menyembelih lembu yang mana saja setelah perintah pertama, niscaya sudah cukup..!! Tetapi mereka malah mempersulit diri sendiri, sehingga Allah pun mempersulit mereka..!!
Anas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya oleh para sahabat dengan pertanyaan yang bertubi-tubi sampai membuat beliau marah. Kemudian beliau naik mimbar dan bersabda: “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepadaku pada hari ini kecuali apa yang telah aku jelaskan kepada kalian.” Anas ra berkata: Kemudian aku layangkan pandangan ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba setiap orang mengusap mukanya dengan pakaiannya karena menangis… Kemudian 'Umar ra bangkit seraya berkata: 'Kami telah ridha Allah sebagai Robb, Islam sebagai ad-Din, dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah dari fitnah'." (Muttafaq ‘alaih, Al Lu’lu’u wal Marjan (1523).
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi para sahabat sehingga setelah itu mereka tidak mau bertanya kecuali hal-hal yang memang perlu ditanyakan.
Hal ini nampak dari pertanyaan-pertanyaan mereka kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang dicatat oleh al-Qur’an tidak lebih dari tigabelas pertanyaan dimana sebagian besarnya berkenaan dengan masalah-masalah praktis (terapan).
Demikian pula jawaban mereka terhadap setiap pertanyaan yang diajukan. Mereka selalu memberikan jawaban yang memudahkan tidak menyulitkan, memberikan kabar gembira tidak membuat orang lari, sebagaimana wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada mereka.
Prinsip umum yang dianut oleh para sahabat adalah tashil (memudahkan) dan musamahah (toleransi) dalam masalah furu’iyah. Mereka menghindari kajian-kajian yang terlalu njlimet (rumit) dan terlalu mendalam, sehingga tidak membuat kemudahan menjadi kesulitan, atau kelapangan menjadi kesempitan. Padahal Allah telah meniadakan perihal itu dari ad-Din-Nya: “Dan tidaklah Dia menjadikan untuk kamu suatu kesempitan dalam agama." (Qs al-Hajj {22}:78).
Bersama prinsip-prinsip tersebut yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, hendaklah kita sebagai muslim harus cerdas dan bijaksana dalam menyikapi suatu perkara berbahaya bernama berlebih-lebihan, dalam segala hal......
Wallahu tabaroka wa ta'ala a'lam.
L♥ve and Respect;
Buya Dive The Radioman
Whatsapp : 082122770121 – BB Pin 7D905AF0
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan." Wallahi, beliau mengulang kalimat tersebut hingga 3x, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka, sekaligus sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (HR. Imam Muslim).
Orang-orang yang berlebih-lebihan ini, seperti dikatakan oleh Imam Nawawi, adalah orang-orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 5/525, terbitan Asy Sa’b, Kairo).
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: “Jauhkanlah dirimu dari berlebih-lebihan (tanaththu’) dan perpecahan”. Yakni berlebih-lebihan dalam membaca berbagai macam qira’at. (An Nihayah, Ibnul Atsir, 5/74, terbitan Isa Al Halabi, Tahqiq Ath Thanahi).
Ulama yang lain mengatakan: “Adapun yang dimaksud orang-orang yang berlebih-lebihan, adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam ibadah, sehingga keluar dari tatacara syari’at dan mengikuti bisikan keraguan syetan."
Dikatakan: “Mereka adalah orang-orang yang terlalu dalam menanyakan masalah-masalah pelik yang jarang terjadinya. Diantaranya terlalu banyak menyebutkan cabang-cabang suatu permasalahan, yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Permasalahnnya sebenarnya jarang terjadi, tetapi terlalu banyak perhatian yang diberikan kepadanya.
Lebih parah lagi dari itu adalah membahas masalah-masalah tertentu, dimana kita diperintahkan syari’at untuk mengimaninya saja tanpa harus mencari tahu takwil-nya. Diantaranya membahas sesuatu yang tidak punya bukti di dunia empirik, seperti pertanyaan tentang hakikat hari kiamat, ruh dan lain sebagainya.
Saksikan dan pahamilah firman Allah subhanahu wa ta'ala berikut ini; "Dia-lah yang menurunkan al-Quran kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur'an, sedangkan yang lainnya adalah (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya..!? Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, karena semuanya itu datang dari sisi Robb kami." Maka tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), melainkan orang-orang yang berakal." (Qs. Ali Imran {3}:7).
Ulama lainnya lagi berkata: “Contoh berlebih-lebihan adalah memperbanyak pertanyaan sehingga orang yang ditanya memberikan jawaban 'tidak boleh' setelah sebelumnya memfatwakan 'boleh'." (Faidhul Qadir, 6/355).
Sesungguhnya semua itu termasuk “kesusahan” yang telah dijauhkan Allah dari Islam. Sebab al-Islam adalah ad-Din yang didasarkan pada prinsip “memudahkan bukan menyulitkan, dan memberikan khabar gembira bukan membuat orang lari..!!"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; "Jauhkanlah dirimu berlebih-lebihan dalam perkara agama. Karena orang-orang sebelum kamu, hancur lantaran mereka berlebih-lebihan dalam agama”. (HR. Imam Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majjah, al-Hakim, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban).
Sikap berlebih-lebihan dalam agama ini akan mendorong tumbuhnya sikap memperketat masalah-masalah kecil dan bersempit dada kepada setiap orang yang berbeda pendapat. Sebaliknya sikap toleran dan tidak mempersulit adalah termasuk faktor tumbuhnya persatuan dan keakraban.
Semangat inilah yang menjadikan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dapat mentolerir perbedaan-perbedaan dalam masalah juz’iah dan tidak bersempit dada terhadap pendapat yang berbeda.
Bahkan mereka mengingkari orang-orang yang kesibukannya hanya mencari-cari masalah (perbedaann furu’). Mereka tidak bersedia menanggapi setiap pertanyaan yang tidak akan melahirkan kecuali kesulitan dan keketatan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyantun." (Qs. al-Maa'idah {5}:101).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga melarang banyak bertanya, yang kemudian mengakibatkan kesulitan dan keberatan atas kaum muslimin. Beliau bersabda; “Orang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah seseorang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian karena pertanyaannya sesuatu itu menjadi diharamkan." (HR. Imam Bukhari dan Muslim).
Dalam sabdanya yang lain disebutkan; “Janganlah engkau tanyakan kepadaku sesuatu yang aku biarkan untuk kamu, karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka dengan para Nabi mereka. Apabila aku melarang kamu dari sesuatu maka jauhilah dia dan apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu maka lakukanlah semaksimal mungkin; dan jika aku mencegah kamu dari sesuatu maka tinggalkanlah." (HR. Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majjah).
Hadits ini mengisyaratkan tentang Bani Israel dalam kisah penyembelihan lembu, dimana pertanyaan mereka sungguh berlebih-lebihan: “Bagaimana bentuknya-lah, bagaimana warnanya-lah?, serta bagaimana-bagaimana lainnya..!?” (Silakan buka Qs al-Baqarah: 67-71). Seandainya saja mereka langsung menyembelih lembu yang mana saja setelah perintah pertama, niscaya sudah cukup..!! Tetapi mereka malah mempersulit diri sendiri, sehingga Allah pun mempersulit mereka..!!
Anas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya oleh para sahabat dengan pertanyaan yang bertubi-tubi sampai membuat beliau marah. Kemudian beliau naik mimbar dan bersabda: “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepadaku pada hari ini kecuali apa yang telah aku jelaskan kepada kalian.” Anas ra berkata: Kemudian aku layangkan pandangan ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba setiap orang mengusap mukanya dengan pakaiannya karena menangis… Kemudian 'Umar ra bangkit seraya berkata: 'Kami telah ridha Allah sebagai Robb, Islam sebagai ad-Din, dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah dari fitnah'." (Muttafaq ‘alaih, Al Lu’lu’u wal Marjan (1523).
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi para sahabat sehingga setelah itu mereka tidak mau bertanya kecuali hal-hal yang memang perlu ditanyakan.
Hal ini nampak dari pertanyaan-pertanyaan mereka kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang dicatat oleh al-Qur’an tidak lebih dari tigabelas pertanyaan dimana sebagian besarnya berkenaan dengan masalah-masalah praktis (terapan).
Demikian pula jawaban mereka terhadap setiap pertanyaan yang diajukan. Mereka selalu memberikan jawaban yang memudahkan tidak menyulitkan, memberikan kabar gembira tidak membuat orang lari, sebagaimana wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada mereka.
Prinsip umum yang dianut oleh para sahabat adalah tashil (memudahkan) dan musamahah (toleransi) dalam masalah furu’iyah. Mereka menghindari kajian-kajian yang terlalu njlimet (rumit) dan terlalu mendalam, sehingga tidak membuat kemudahan menjadi kesulitan, atau kelapangan menjadi kesempitan. Padahal Allah telah meniadakan perihal itu dari ad-Din-Nya: “Dan tidaklah Dia menjadikan untuk kamu suatu kesempitan dalam agama." (Qs al-Hajj {22}:78).
Bersama prinsip-prinsip tersebut yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, hendaklah kita sebagai muslim harus cerdas dan bijaksana dalam menyikapi suatu perkara berbahaya bernama berlebih-lebihan, dalam segala hal......
Wallahu tabaroka wa ta'ala a'lam.
L♥ve and Respect;
Buya Dive The Radioman
Whatsapp : 082122770121 – BB Pin 7D905AF0
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar