KALAU DULU SURAT SEKARANG SMS
Source and Adlibs by :
Andy Rustam Munaf
Broadcast Sukses
Wahai “orang radio” di Indonesia...
Jaman dulu di tahun-tahun akhir 60-an dan awal 70-an, para penyiar radio amatir, (pen: istilah jadul untuk radio siaran swasta adalah radio amatir, sebuah istilah salah kaprah yang diberikan oleh masyarakat), kalau sedang siaran isinya cuma membacakan surat atau kartu pos dari pendengar.
Kalau ada 2 atau lebih orang yang duduk bersama penyiar yang siaran, maka biasanya orang-orang itu ikut ngobrol-ngobrol bersama di udara mengomentari surat yang sedang dibacakan atau bahkan ikut membacakan surat. Ikut tertawa bersama di studio (sementara pendengar sendiri tidak tahu apa yang membuat mereka tertawa), kalau sudah capek (lelah) karena ngomong dan ketawa melulu, barulah sebuah lagu dipasang.
Kalau tukang pos datang, semua pada berhamburan menyambut. Rasanya bangga dan senang sekali kalau banyak yang mengirim surat atau kartu pos. Kebanyakan surat sih isinya hanya meminta lagu untuk diputarkan, biasanya untuk didengar sendiri oleh si penulis surat atau untuk dikirimkan ke pacar maupun teman-temannya.
Ehm, Hari Gini Sudah Tahun 2015 Bos...
Lantas bagaimana dengan orang-orang yang menjadi penyiar radio hari ini, dibandingkan dengan orang-orang yang menjadi penyiar pada kira-kira 30 atau 40 tahun yang lalu..!? Anda yang biasa menggeser-geser frekuensi radio, juga boleh membandingkan cerita di atas tentang jaman "radio amatir" dengan siaran radio-radio swasta jaman sekarang. Ternyata... nggak beda-beda amat..!!
Hampir semua radio siaran swasta sekarang ini, ada acara (kalau tidak di semua acara) yang isinya membacakan sms. Kata-kata penyiarnya selalu, "Silahkan kirim pendapat Anda atau komentar melalui sms ke nomer sekian-sekian". Begitu juga di semua radio siaran swasta, banyak acara yang diisi oleh penyiar berdua atau bertiga yang mengobrol dan tertawa-tawa, bahkan terkadang terlalu berisik karena masing-masing berbicara saling menimpa sebelum yang lain menyelesaikan kalimatnya, sampai-sampai pendengar sulit memahami apa yang dikatakan.
Tak Tahu Mesti Bicara Apa..!?
Kelemahan terbesar dari kebanyakan penyiar-penyiar kita adalah; kalau tidak ada partner, atau kalau tidak ada sms atau tidak ada surat (bagi penyiar angkatan jadul) umumnya mereka tidak tahu harus bicara apa. Biasanya sekedar "cuap" sih semua bisa, tapi omongan bisa jadi ngelantur kemana-mana nggak jelas atau malah otaknya blank (au..ah..gelap!) sehingga nanti kalau udah mulai gagu atau gagap, barulah sebuah lagu dipasang. Maka inilah para penyiar yang saya istilahkan CACAT ADLIBS..!!
Itu sebabnya banyak penyiar radio yang membolak-balik majalah—koran—atau yang lebih gampang lagi buka internet ketika sedang siaran, lalu membacakan konten media tersebut (asumsinya biasanya naif: ... pendengar radio itu kebanyakan tidak sempat baca koran—majalah—atau browsing internet). Perihal seperti ini juga sama terjadi pada penyiar-penyiar radio jadul dan juga penyiar-penyiar radio jarang (jaman sekarang). Bedanya hanya ada ketambahan buka-buka internet/website dan mengudarakan percakapan handphone.
Naif-nya Bagian Sales dan Pemasang Iklan
Ketika salesman radio jadul berkunjung ke Advertising Agency menemui Media Manager untuk menawarkan pemasangan iklan di salah satu acara radionya, pertanyaan Advertising Agency selalu sama, "berapa banyak SURAT yang masuk di acara itu?" Lucunya, kebanyakan salesman radio selalu menjawab dengan menyebutkan jumlah tertentu (seringnya dilebih-lebihkan!). Nah, silahkan bandingkan pula dengan salesman radio jaman sekarang dan juga Media Manager dari Advertising Agency-nya. Perbedaannya sekarang cuma satu kata pada pertanyaannya, "berapa banyak SMS yang masuk di acara itu?" Hehehe...
Maka jumlah surat (jadul) dan jumlah sms (jaman sekarang) menjadi tolok ukur jumlah/banyaknya pendengar radio itu. Cara berpikir dengan asumsi yang "sederhana" ini ternyata tidak berubah walau sudah hampir 40 tahun..!? Asumsinya: Kalau sms-nya sedikit, berarti pendengar acara radio ini sedikit. Tetap sama!!! Baik pada pihak salesman radio maupun pada pihak Media Manager Advertising Agency dan juga para client-nya.
Surat Pembaca dan SMS
Sungguh tidak habis pikir mengapa pandangan seperti ini terjadinya justru di media radio? Padahal mereka bisa secara logika menganalogikannya dengan rubrik "surat pembaca" di Koran/Majalah?
Seperti kita ketahui, jumlah surat kepada redaksi (surat pembaca) di surat-kabar setiap harinya tidaklah selalu sama banyaknya. Tetapi bukankah tidak ada satu Media Manager atau Account Executive-pun yang mempunyai anggapan bahwa, kalau jumlah surat pembacanya lagi sedikit itu berarti jumlah pembaca surat kabar tersebut menurun atau oplag surat kabarnya menciut. Tidak ada yang berpikir seperti itu, bukan ?? Cara pikir mereka sangat benar untuk surat-kabar dan majalah, bahwa tidak ada hubungan langsung antara jumlah surat yang dilayangkan ke meja redaksi dengan jumlah pembaca koran itu.
Lantas mengapa mereka tidak bisa menggunakan cara berpikir yang sama untuk radio siaran, bahwa tidak ada hubungan langsung antara jumlah sms yang dilayangkan kepada penyiar di suatu acara radio dengan jumlah pendengar radio itu. Kok susah bener sih..?!
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar