SOLUSI CERDAS ADALAH KEBUTUHAN
Source and Adlibs by :
Andy Rustam Munaf
Broadcast Sukses
Lembaga survey untuk media penyiaran “Nielsen”, sekarang semakin canggih memberikan layanan rating. Sebuah stasiun televisi yang sedang menyiarkan acara A, dalam rentang waktu selama acara itu sedang berlangsung, segera bisa diketahui berapa banyak penonton acara tersebut dari menit pertama hingga akhir acara.
Jadi, soal berapa banyak dan siapa pemirsa, bukanlah lagi suatu persoalan besar. Adapun perihal yang selalu menjadi persoalan besar bagi stasiun penyiaran televisi (juga radio), bagaimana sih caranya meningkatkan publik/audience dari stasiunnya?
Logika Pendek
Logika pendek maksudnya adalah logika sederhana, yang logikanya kelihatan bener tapi sebenarnya salah. Contoh: BMW adalah mobilnya orang-orang kaya. Jika saya punya mobil BMW, maka Logika Pendek bilang: Saya adalah orang kaya..!?
Secara logika pendek, kalau kita memberikan materi apa yang disukai oleh audience, maka pastilah audience akan manteng di channel kita. Maka, misalnya, setelah menganalisa hasil survey, ternyata acara “Reality Show - Hantu” memperoleh rating tinggi, lalu buru-burulah bagian Program mengadakan acara-acara “reality show – Horor sejenis” lebih banyak lagi.
Stasiun lainnya pun ikut-ikutan. Itu contoh logika pendek juga: Acara Reality Show – Hantu ini menghasilkan rating tinggi alias banyak penontonnya. Reality Show – Hantu adalah sebuah acara televisi berthema horor. Logika Pendek bilang: Penonton Televisi menyukai thema Horor. Begitulah cara berpikirnya sebahagian besar orang-orang di broadcasting.
Menurut bapak psikologi, Sigmund Freud, cara predicate thinking seperti ini merupakan kesalahan, atau sesuatu yang justru illogical.
Masakan Isteri buat Suami
Kalau itu masih kurang maka diadakanlah survey lagi dengan tujuan mendapat jawaban dari pertanyaan besar: “apakah yang disukai oleh audience?”
Hasil survey mengatakan bahwa untuk audience segment dengan demografis tertentu, hasil survey menunjukkan bahwa acara yang disukai adalah: Acara A. Maka mari sekarang kita siarkan acara A sebanyak mungkin. Jika cara untuk meningkatkan audience hanya semudah itu, maka tidak akan ada stasiun televisi dan stasiun radio yang beralih kepemilikannya di Indonesia alias merugi terus..!?
Pernah pada suatu pagi di hari minggu, isteri saya bertanya, “hari ini mau dimasakin apa untuk makan siang?” Saya menjawab, “Kepingin semur ayam”. Isteri saya pun kemudian membuat semur ayam untuk makan siang. Ternyata ketika sudah hampir waktu makan siang, saya meminta pembantu untuk membeli gado-gado di pojok jalan. Alhasil, isteri saya marah karena semur ayam sudah dimasakin, tetapi tidak jadi saya makan, malah makan gado-gado..!?
Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kejadian ini? Tepat. Bahwa sebenarnya jawaban yang saya berikan di pagi hari, sangat dipengaruhi situasi dan kondisi saya (termasuk lingkungan) pada waktu itu. Selanjutnya ketika sudah benar-benar mau makan siang, situasi dan kondisinya sudah berbeda dan itu mempengaruhi selera makan apa yang saya inginkan. Tetapi tentu tidak bisa disimpulkan bahwa saya menyukai gado-gado dan tak menyukai semur ayam, atau sebaliknya. Sebab saya menyukai kedua-duanya, masing-masing dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
Pada hari-hari yang lain (hari kerja), isteri saya tidak bertanya. Ia membuatkan saja masakan dengan memperkirakan apa keinginan saya. Ia berpikir bahwa saya pasti lelah nanti sepulangnya dari kantor. Ia juga berpikir bahwa saya ingin jaga berat badan, maka ia menyediakan makan malam yang tidak berat, sayur-sayur saja. Ia berpikir bahwa kemarin ia memasak sayur lodeh yang saya sukai, kalau begitu hari ini ia harus masak sayur lain yang berbeda sebagai variasi, tetapi tetap sayur dengan cara masak yang benar yang saya sukai.
Nah lucunya, setiap malam saya selalu cocok saja makan sajian yang diberikannya ketika pulang dari kantor. Padahal istri saya tak bertanya sebelumnya, “mau dimasakin apa nanti malam?”
Dari kedua contoh diatas, kita ketahui bahwa ketika dilakukan survey, dan kepada responden ditanyakan: “apa yang Anda sukai?”, maka sebenarnya jawaban yang diberikannya adalah jawaban yang “bias”. Audience sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang disukainya secara pasti. Kalaupun ia menjawab bahwa ia menyukai “A”, itupun bukan jawabannya yang tepat, karena jawaban tersebut ia berikan pada situasi diri dan kondisi diri serta lingkungan yang berbeda, yang tidak sama dengan ketika ia sedang akan menyalakan televisi ataupun radionya.
Apa yang Disukai?
Sebenarnya kita tidak perlu mengetahui jawaban dari “apa yang disukai” oleh audience dengan tujuan agar kita bisa mengudarakan acara yang disukai pemirsa / pendengar, dengan maksud agar audience bertambah. Karena memang tidak akan pernah didapat jawaban yang benar..!?
Adapun upaya yang perlu kita lakukan adalah mempelajari dengan seksama, bagaimana masyarakat, para pemirsa atau para pendengar (sasaran audience kita), menjalani kehidupannya. Kemudian pikirkan peran apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa lebih gembira, lebih mudah dan lebih nyaman menjalankan kehidupan mereka. Lalu berkreasilah dari sini, dengan mempertimbangkan keadaan audience ketika acara tersebut disajikan.
45 tahun yang lalu minuman dalam botol yang ada di Indonesia, semuanya berupa soda limun, sirup dan juice buah. Ketika mula-mula Air Putih minuman dalam botol “Aqua” akan diproduksi, mereka tidak mengadakan survey menanyakan, “Minuman botol apakah yang disukai? “ Karena sudah pasti jawabannya tidak akan ada yang bilang, “Air putih“. Bukankah setiap orang pada waktu itu memasak air minum di rumah masing-masing..!? Jadi buat apa beli kemasan dalam botol? Begitu kira pemikiran jaman itu.
Oleh karena itu, mereka pun mempelajari bagaimana kondisi masyarakat. Diketahui semakin lama masyarakat semakin sibuk sehingga kekurangan waktu. Mereka juga melihat, bagaimana air bersih instant yang di luar negeri bisa diperoleh langsung diminum oleh setiap orang dari kran saluran pipa air di kotanya, di Indonesia sulit bahkan diproyeksikan tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.
Dari hasil mempelajari situasi, keadaan, serta perilaku masyarakat, maka lahirlah Air Putih Minum instant dalam kemasan, yang sekarang ini tersedia berbagai merk, telah menjadi kebutuhan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Ibarat isteri yang sangat memperhatikan suami dan mengenali kebiasaan-kebiasaannya, tanpa perlu bertanya ia sudah bisa memasakkan berbagai masakan kreasinya sendiri tapi pas cocok dengan selera suami.
Begitulah seharusnya sikap para broadcasters dalam melayani masyarakatnya. Tanpa perlu bertanya, tanpa perlu diminta, tapi cocok teruus... ^^
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive
Andy Rustam Munaf
Broadcast Sukses
Lembaga survey untuk media penyiaran “Nielsen”, sekarang semakin canggih memberikan layanan rating. Sebuah stasiun televisi yang sedang menyiarkan acara A, dalam rentang waktu selama acara itu sedang berlangsung, segera bisa diketahui berapa banyak penonton acara tersebut dari menit pertama hingga akhir acara.
Jadi, soal berapa banyak dan siapa pemirsa, bukanlah lagi suatu persoalan besar. Adapun perihal yang selalu menjadi persoalan besar bagi stasiun penyiaran televisi (juga radio), bagaimana sih caranya meningkatkan publik/audience dari stasiunnya?
Logika Pendek
Logika pendek maksudnya adalah logika sederhana, yang logikanya kelihatan bener tapi sebenarnya salah. Contoh: BMW adalah mobilnya orang-orang kaya. Jika saya punya mobil BMW, maka Logika Pendek bilang: Saya adalah orang kaya..!?
Secara logika pendek, kalau kita memberikan materi apa yang disukai oleh audience, maka pastilah audience akan manteng di channel kita. Maka, misalnya, setelah menganalisa hasil survey, ternyata acara “Reality Show - Hantu” memperoleh rating tinggi, lalu buru-burulah bagian Program mengadakan acara-acara “reality show – Horor sejenis” lebih banyak lagi.
Stasiun lainnya pun ikut-ikutan. Itu contoh logika pendek juga: Acara Reality Show – Hantu ini menghasilkan rating tinggi alias banyak penontonnya. Reality Show – Hantu adalah sebuah acara televisi berthema horor. Logika Pendek bilang: Penonton Televisi menyukai thema Horor. Begitulah cara berpikirnya sebahagian besar orang-orang di broadcasting.
Menurut bapak psikologi, Sigmund Freud, cara predicate thinking seperti ini merupakan kesalahan, atau sesuatu yang justru illogical.
Masakan Isteri buat Suami
Kalau itu masih kurang maka diadakanlah survey lagi dengan tujuan mendapat jawaban dari pertanyaan besar: “apakah yang disukai oleh audience?”
Hasil survey mengatakan bahwa untuk audience segment dengan demografis tertentu, hasil survey menunjukkan bahwa acara yang disukai adalah: Acara A. Maka mari sekarang kita siarkan acara A sebanyak mungkin. Jika cara untuk meningkatkan audience hanya semudah itu, maka tidak akan ada stasiun televisi dan stasiun radio yang beralih kepemilikannya di Indonesia alias merugi terus..!?
Pernah pada suatu pagi di hari minggu, isteri saya bertanya, “hari ini mau dimasakin apa untuk makan siang?” Saya menjawab, “Kepingin semur ayam”. Isteri saya pun kemudian membuat semur ayam untuk makan siang. Ternyata ketika sudah hampir waktu makan siang, saya meminta pembantu untuk membeli gado-gado di pojok jalan. Alhasil, isteri saya marah karena semur ayam sudah dimasakin, tetapi tidak jadi saya makan, malah makan gado-gado..!?
Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kejadian ini? Tepat. Bahwa sebenarnya jawaban yang saya berikan di pagi hari, sangat dipengaruhi situasi dan kondisi saya (termasuk lingkungan) pada waktu itu. Selanjutnya ketika sudah benar-benar mau makan siang, situasi dan kondisinya sudah berbeda dan itu mempengaruhi selera makan apa yang saya inginkan. Tetapi tentu tidak bisa disimpulkan bahwa saya menyukai gado-gado dan tak menyukai semur ayam, atau sebaliknya. Sebab saya menyukai kedua-duanya, masing-masing dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
Pada hari-hari yang lain (hari kerja), isteri saya tidak bertanya. Ia membuatkan saja masakan dengan memperkirakan apa keinginan saya. Ia berpikir bahwa saya pasti lelah nanti sepulangnya dari kantor. Ia juga berpikir bahwa saya ingin jaga berat badan, maka ia menyediakan makan malam yang tidak berat, sayur-sayur saja. Ia berpikir bahwa kemarin ia memasak sayur lodeh yang saya sukai, kalau begitu hari ini ia harus masak sayur lain yang berbeda sebagai variasi, tetapi tetap sayur dengan cara masak yang benar yang saya sukai.
Nah lucunya, setiap malam saya selalu cocok saja makan sajian yang diberikannya ketika pulang dari kantor. Padahal istri saya tak bertanya sebelumnya, “mau dimasakin apa nanti malam?”
Dari kedua contoh diatas, kita ketahui bahwa ketika dilakukan survey, dan kepada responden ditanyakan: “apa yang Anda sukai?”, maka sebenarnya jawaban yang diberikannya adalah jawaban yang “bias”. Audience sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang disukainya secara pasti. Kalaupun ia menjawab bahwa ia menyukai “A”, itupun bukan jawabannya yang tepat, karena jawaban tersebut ia berikan pada situasi diri dan kondisi diri serta lingkungan yang berbeda, yang tidak sama dengan ketika ia sedang akan menyalakan televisi ataupun radionya.
Apa yang Disukai?
Sebenarnya kita tidak perlu mengetahui jawaban dari “apa yang disukai” oleh audience dengan tujuan agar kita bisa mengudarakan acara yang disukai pemirsa / pendengar, dengan maksud agar audience bertambah. Karena memang tidak akan pernah didapat jawaban yang benar..!?
Adapun upaya yang perlu kita lakukan adalah mempelajari dengan seksama, bagaimana masyarakat, para pemirsa atau para pendengar (sasaran audience kita), menjalani kehidupannya. Kemudian pikirkan peran apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa lebih gembira, lebih mudah dan lebih nyaman menjalankan kehidupan mereka. Lalu berkreasilah dari sini, dengan mempertimbangkan keadaan audience ketika acara tersebut disajikan.
45 tahun yang lalu minuman dalam botol yang ada di Indonesia, semuanya berupa soda limun, sirup dan juice buah. Ketika mula-mula Air Putih minuman dalam botol “Aqua” akan diproduksi, mereka tidak mengadakan survey menanyakan, “Minuman botol apakah yang disukai? “ Karena sudah pasti jawabannya tidak akan ada yang bilang, “Air putih“. Bukankah setiap orang pada waktu itu memasak air minum di rumah masing-masing..!? Jadi buat apa beli kemasan dalam botol? Begitu kira pemikiran jaman itu.
Oleh karena itu, mereka pun mempelajari bagaimana kondisi masyarakat. Diketahui semakin lama masyarakat semakin sibuk sehingga kekurangan waktu. Mereka juga melihat, bagaimana air bersih instant yang di luar negeri bisa diperoleh langsung diminum oleh setiap orang dari kran saluran pipa air di kotanya, di Indonesia sulit bahkan diproyeksikan tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.
Dari hasil mempelajari situasi, keadaan, serta perilaku masyarakat, maka lahirlah Air Putih Minum instant dalam kemasan, yang sekarang ini tersedia berbagai merk, telah menjadi kebutuhan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Ibarat isteri yang sangat memperhatikan suami dan mengenali kebiasaan-kebiasaannya, tanpa perlu bertanya ia sudah bisa memasakkan berbagai masakan kreasinya sendiri tapi pas cocok dengan selera suami.
Begitulah seharusnya sikap para broadcasters dalam melayani masyarakatnya. Tanpa perlu bertanya, tanpa perlu diminta, tapi cocok teruus... ^^
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Buya Dive Blogspot
Dive Perdana Facebook
Halaman Buya Dive The Radioman
Halaman Kebangkitan Siaran Radio di Indonesia
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar