Selasa, 13 Oktober 2015

BUYA DIVE TARAGAK JO PADANG KOTA TACINTO





Buya Dive Kangen Sama Padang Kota Tercinta ♥


Bismillaahirrohmaanirrohiim;
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh.

Wahai sahabatku yang di sayang oleh Allah subhanahu wa ta’ala...

Mengapa Buya harus rindu kepada kota Padang dan Bumi Minang, sehingga negeri ini saya cintai sebagai kampung halaman, padahal saya adalah kelahiran Jakarta..!? :)

• Pertama; kedua orangtua Buya asli orang Minang yang sejak tahun 50-an sudah merantau ke Jakarta (Mama asa Silayiang Ateh Padang Panjang, suku Koto – Papa asa Kampuang Jao Dalam Padang, suku Caniago).

• Kedua; semenjak awal tahun 80 hingga mendekati akhir tahun 80, merupakan periode masa muda Buya yang merantau [ kebalikannya—urang Jakarta—marantau ka Padang :) ], sekaligus awal mula saya menjadi orang radio di kota Padang, tepatnya di radio Febrianta atau sekarang namanya SIPP FM.

• Ketiga; selama “Satu Windu” kehidupan usia muda Buya di kota Padang, tentu saja mengesankan banyak kenangan yang melekat di hati dan pikiran, baik berupa pertemanan maupun pengalaman yang saya dapatkan selama kurang lebih 8 tahun tersebut.

Itulah sebab mengapa Buya Dive benar-benar gusar, ketika kaum homosexual menyertakan nama Padang sebagai identitas halaman maksyiat mereka di facebook. Halaman ini adalah eksistensi mereka yang kedua, setelah halaman sejenis sebelumnya telah berhasil kami “Banned”. Begitu pula “nyinyir-nya” Buya kepada pengelola siaran radio di Bumi Minang, yang (sekiranya) meminta bantuan “advis” saya untuk hal pengelolaan siaran radio mereka; dimana STARA hendaknya jangan pernah memberikan kesempatan kepada kaum homosexual untuk membentuk dan mengumpulkan kaumnya, lantaran kebijakan perusahan yang (seolah) membiarkan mereka berada dan menjadi benalu dalam perusahaan..!?

Semoga saja para pengelola siaran radio di Bumi Minang dapat menyikapi “nyinyir” Buya ini, sebagai bentuk ketetapan bagi kaum muslim yang sudah seharusnya taat kepada ajaran Islam. Sungguh bahwa setiap muslim yang sami’na wa atho’na kepada Allah dan Rasul-Nya, tentulah mereka pasti tahu bahwa homosexual adalah perbuatan maksyiat (bathil) yang dimurkai Allah, sehingga ia tidak boleh dicampur aduk atau disatukan dengan sesuatu yang haqq..!!

Itulah sebab mengapa Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan firman-Nya; “Janganlah kamu campur adukkan yang haqq dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang haqq itu sedang kamu mengetahui.” (Qs. al-Baqarah {2}:42).

Maka bersama prinsip ayat ini, sesungguhnya keimanan dan kecerdasan orang radio tengah di uji oleh Robb-nya; apakah mereka hanya mencari kesuksesan sekadar ala dunia (menghalalkan segala cara), atau mereka ingin menjemput keberhasilan bisnis yang dapat menyenangkan bagi dunia, sekaligus diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Duhai sahabatku...

Setelah usai penyelenggaraan training untuk sahabat radio di kota Tegal saat ini, insyaAllah tanggal 25 Oktober 2015 hingga 1 minggu ke depannya, Buya berniat ingin “pulang kampuang”. :D Karena saya benar-benar taragak sama Padang kota tercinta dan negeri-negeri disekelilingnya—taragak bertemu dunsanak dan kawan-kawan lamo—taragak makan Soto Garuda—taragak makan dendeang balado di restoran Semalam Suntuk—taragak makan ayam pop di restoran Bernama—taragak Makan udang goreng dan rujak di Pantai Padang—minum es durian atau minum kopi di Pondok—dan lain-lain...

Selanjutnya begini saja, kepada dunsanak Pengelola Siaran Radio di Bumi Minang, yang (mungkin) berkenan mengundang Buya untuk mengadakan diskusi hingga menyolusi sejumlah masalah serius pengelolaan siaran radio, di antaranya sebagai berikut;

• Pengelolaan divisi penyiar—program—serta produksi, adalah “main bussiness” bagi pengelolaan siaran radio profesional. Bagaimana metode canggih untuk mengelola dan mengoptimalkannya..!?

• Income STARA paling utama, bersumber dari pengudaraan iklan komersil profesional yang berkesinambungan. Apa yang menyebabkan perihal tersebut tidak menjadi keniscayaan bagi mayoritas STARA di daerah, lalu bagaimana tahapan untuk melakukan revisibilitasnya..!?

• Iklan radio profesional, bukanlah mengudarakan materi kata yang bertele-tele, dengan durasi 2 atau 3 menit bahkan lebih..!? Bagaimana manajemen radio seharusnya mencerdaskan para pengiklan mereka terhadap permasalahan serius ini..!?

• Kekeliruan mayoritas orang radio daerah dalam menyikapi persaingan, sehingga mereka pun keliru dalam menyolusinya..!? Apa saja kekeliruan itu, dan bagaimana memperbaikinya..!?

• Mayoritas STARA di daerah “mati gaya” mendapati “booming-nya” Televisi swasta, sehingga mereka lupa kekuatan medianya, lalu repot mengadaptasi sesuatu yang di anggap sukses dari televisi..!? Anda ingin tahu solusi cerdasnya..!?

• Bagaimana mungkin sekadar kampanye “Ayo Dengerin Radio” akan sanggup menjadikan masyarakat sudi mengikutinya, sedangkan bersama pola siaran anda selama ini, mereka tidak berminat untuk mendengarkannya..!? Bagaimana semestinya..!?

• Cukup banyak STARA di daerah repot menyelenggarakan beragam seminar radio begini dan begitu, yang intinya adalah ingin mendapatkan kiat-kiat baru dari orang atau kelompok yang di anggap sukses, untuk selanjutnya ingin diterapkan oleh para peserta seminar..!? Maaf kawan, menurut Buya, ideasi seperti itu tidak akan pernah efektif, selain dari pada masuk telinga kanan lalu keluar lagi lewat telinga yang sama..!! Mengapa demikian, lantas bagaimana seharusnya..!?

• Forum tanya–jawab bebas, tentang suatu permasalahan STARA anda, yang solusinya mungkin masih abu-abu, dan lain sebagainya.

Dengan mengharap ridho dan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, Buya silakan kepada dunsanak Pengelola Radio di Bumi Minang menghubungi nomer ini—081295904566—untuk pengaturan jadwal agar tidak berbenturan, terima kasih.

Kok buliah bagarah Buya senek, antilah talampau banyak mangumpuakan anok jo ragu, atau gengsi ka gengsi; iyo balangau kasudahan no..!! Bukan apo-apo sanak, wakatu nan adoh iyo singkek, sudah tu yakinlah pulo, kalau ilimu nan haqq tu sungguah maha nilai no, dan jarang-jarang adoh no, he..he..he...

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda; “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Imam ath-Tirmidzi).

Wallahu tabaroka wa ta’ala a’lam.



L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Instagram @buyadive 

0 komentar:

Posting Komentar