ASAH EMPATHY
KUNCI GAUL ADALAH KOMUNIKASI (Part. 2)
Wahai “orang radio” di Indonesia...
Terkadang kita berhadapan dengan seseorang yang berusaha menerangkan Sesutu. Dari nada bicaranya, sering timbul kesan bahwa dia membutuhkan sesuatu yang lain, yang sulit dijelaskannya. Kemampuan kita berempatilah yang dibutuhkan untuk membaca situasi.
Empati berbeda dengan simpati. Saat bersimpati kita larut dalam kondisi yang dialami lawan bicara. Sementara, ketika berempati, kita tidak begitu saja larut, tetapi memahami sepenuhnya kondisi lawan bicara. Dengan begitu, kita tetap bisa memandang suatu kondisi secara objektif.
• Sadar bahwa ketika bertatap muka, ia tidak boleh memfokuskan perhatiannya ke diri sendiri.
• Memperhatikan detail, memanfaatkan waktu untuk memperhatikan sekeliling, dan mendengarkan suara-suara yang ada disekelilingnya.
• Mengobservasi dan menginterpretasikan bahasa tubuh.
• Memperhatikan ungkapan-ungkapan yang tidak direspon orang lain.
• Mampu membaca hal-hal yang tersirat.
• Merespek fokus dan minat orang lain dan berusaha untuk tidak melanggar privasi orang lain.
• Mampu membuat orang lain merasakan respek dan penghargaan dari dirinya.
Menjadi Teman Bicara yang Simpatik
Saat melakukan komunikasi dengan orang lain, menjadi teman bicara yang simpatik harus menjadi sasaran Anda. Niat baik tersebut akan mengontrol cara bicara dan mendengar Anda, bahkan pilihan kata-kata yang kebanyakan bertujuan untuk melemparkan kesan positif pada lawan bicara. Dengan demikian, lawan bicara akan melihat Anda sebagai orang yang simpatik.
Jadi Inisiator Percakapan? Anda Bisa!
Pembicaraan bisa menarik, bisa tidak. Bila memang ingin bergaul, maka Andalah yang bertanggung jawab membuat pembicaraan menjadi menarik. Banyak hal yang bisa jadi topik menarik dalam pembicaran awal.
Perlu juga dicatat bahwa perbedaan atau keunikan bisa menjadi pembicaraan yang mengasyikkan. Tetapi, kesamaan pengalaman bisa menghasilkan rasa kebersaman.
Kreatif dengan kalimat pembuka
“Apa kabar?” adalah kalimat sapaan yang umum dan bisa dengan mudah Anda ucapkan untuk membuka jalur komunikasi dengan orang lain. Namun, Anda bisa saja mengganti kalimat tersebut dengan kalimat-kalimat lain yang intinya adalah untuk memulai sebuah komunikasi.
Di bawah ini ada beberapa contoh kalimat pembuka:
“Saya menikmati pertemuan ini. Apakah Anda sudah sering datang ke sini?”
“Saya baru sekali datang ke sini. Anda juga?”
“Saya sedang mencari orang yang bisa diajak diskusi mengenai pertemuan ini.”
Lakukan Riset Kecil Sebelum Pertemuan
Dengan mengetahui keadaan terkini, perkembangan karier, perkembangan usaha seseorang, Anda bisa membuka pembicaraan dengan lawan bicara secara lancar. Bukalah situs web perusahaan orang yang akan Anda temui, atau siaplah dengan berita-berita terkini seputar profesi lawan bicara, maka Anda akan lebih lancar masuk ke dalam pembicaraan.
Lontarkan Pertanyaan-Pertanyaan Penggali
Beberapa pelatihan sering dibuka dengan acara saling mengenal. Perserta diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan penggali, seperti “apa yang akan Anda lakukan 5 tahun mendatang” dan “di mana Anda akan tinggal di masa tua”. Pertanyaan-pertanyaan ini semula sering membuat orang tersentak dan kagok.
Tetapi, setelah melakukan percakapan, semua peserta biasanya menikmatinya, karena sempat mengenal lawan bicara lebih jauh, dan bisa mengungkapkan dirinya lebih dalam.
Contoh Pertanyaan-Pertanyaan Penggali:
“Bagaimana pendapat Anda mengenai acara/musik/makanan di sini?”
“Anda tinggal di daerah mana?”
“Anda bekerja di bidang apa?”
“Cabang olahraga apa yang Anda suka?”
Setiap orang senang ditanya. Terutama, menyangkut hal yang ingin lebih jauh diungkapkannya dan hal-hal seputar dirinya. Pertanyaan pun sebaiknya terarah, focus, dan spesifik. Hindari basa-basi..!!
Bersambung...
L♥ve and Respect;
Follow Buya Dive The Radioman :
Instagram @buyadive

0 komentar:
Posting Komentar